Ciri-ciri Amphibia

Amphibia atau Amfibia (Yunani, amphi = kedua, bios = hidup) meliputi katak, salamander, dan caecilian Amphibia tidak berkaki). Amphibia merupakan hewan yang dapat hidup di darat dan di air tawar, tetapi tidak hidup di air laut. Amphibia pertama muncul di zaman Devonian—Era Paleozoic—sekitar 350 juta tahun yang lalu. Hampir seluruh daratan di dunia menyatu menjadi satu kontinen luas yang dinamakan Pangea (Asia, Eropa dan Amerika Utara menyatu pada daratan ini). Daratan Pangea ini beriklim tropis stabil, dengan kelembaban tinggi, habitat rawa menjadi bentuk ekosistem yang umum Arthropoda awal (crustacea, serangga dan arachnida) tersedia dalam jumlah melimpah, Ikan carnivor (predator aquatis) juga berada dalam jumlah yang banyak.

Ciri-ciri Amphibia

Ciri-ciri Amphibia

Amphibi merupakan hewan yang dapat hidup di darat dan air. Amphibi muda hidup di air dan bernapas dengan insang. Amphibi dewasa hidup di darat dan bernapas menggunakan paru-paru. Ketika berada di air katak bernapas menggunakan kulitnya. Amphibi mempunyai kulit yang selalu basah untuk membantu pernapasannya karena kulit yang basah ini banyak mengandung pembuluh darah, sehingga dapat membantu oksigen berdifusi melalui kulitnya. Amphibi bergerak dengan keempat kakinya. Selain itu katak juga mempunyai selaput pada jari-jari kakinya yang digunakan untuk berenang.

Amphibi berkembang biak dengan bertelur. Pembuahannya terjadi secara eksternal. Ketika katak dewasa akan bertelur, Amphibi tersebut akan menuju air untuk mengeluarkan telur-telurnya. Pertemuan antara sel telur dan sperma terjadi di dalam air. Amphibi mengalami metamorfosis dari zigot-embrio-berudu-katak kecil-katak dewasa. Amphibi terbagi menjadi tiga ordo, yaitu:

  1. Ordo Urodela, contohnya Salmander
  2. Ordo Anura, contohnya katak hijau (Rana pipiens) dan katak darat (Bufo terrestris), dan
  3. Ordo Apoda (Salmander tidak berkaki) contohnya, Ichtyosis glutinous

Ciri-ciri umum Amphibia

Amphibia memiliki ciri-ciri umum berikut.

  • Tubuh memiliki bagian kepala dan badan, misalnya pada katak, atau kepala, badan, ekor, misalnya pada salamander.
  • Kulit lunak, berkelenjar, dan selalu basah. Kulit tidak bersisik, kecuali pada salamander. Di antara kulit dan jaringan otot di bawahnya terdapat rongga berisi cairan limfa. Pada bangkong yang berwarna cerah, kulitnya menghasilkan cairan beracun bagi hewan lainnya.
  • Amphibia memiliki dua pasang kaki untuk berjalan, melompat, dan berenang. Pada katak, kaki belakang lebih panjang daripada kaki depan. Rangka kaki depan terdiri atas humerus, radio ulna, karpal, metakarpal, dan falang (tulang jari-jari). Rangka kaki belakang terdiri atas femur, tibio-fibula, tarsal, dan falang. Kaki depan memiliki empat jari sedangkan kaki belakang memiliki lima jari. Di antara jari-jari terdapat selaput renang.
  • Alat pernapasan berupa insang, kulit, dan paru-paru. Katak dewasa bernapas dengan paru-paru yang berupa kantong kantong dengan dinding yang memiliki banyak ruangan.
  • Amphibia merupakan hewan poikiloterm (berdarah dingin).
  • Jantung Amphibia terdiri atas tiga ruangan, yaitu satu ventrikel dan dua atrium. Peredaran darah tertutup ganda, artinya darah dua kali melewati jantung dalam satu kali peredaran.
  • Amphibia memiliki sistem pencernaan lengkap mulai dan mulut, faring, esofagus (kerongkongan), lambung, usus, dan rektum yang langsung bersatu dengan kloaka. Pada katak, mulut sangat lebar dan memiliki gigi-gigi kecil di sepanjang rahang atas. Pada langit-langit mulut terdapat gigi vomer. Lidah bercabang dua pada bagian ujungnya dan pada permukaannya mengandung zat perekat untuk menangkap serangga. Amphibia memiliki hati, kantong empedu, dan pankreas.
  • Sistem ekskresi pada Amphibia berupa ginjal tipe mesonefroid dan saluran kemih (saluran wolff atau saluran mesonefros) yang membawa sekret ke kloaka. Amphibia memiliki kandung kemih di sebelah sisi ventral kloaka.
  • Sistem koordinasi pada Amphibia terdiri atas sistem saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf berupa otak yang terbagi menjadi lima bagian dan 10 saraf kranial. Sistem endokrin berupa kelenjar pituitari yang terletak di bawah otak, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, pulau-pulau Langerhans dalam pankreas, dan gonad. Kelenjar pituitari menghasilkan hormon perangsang pertumbuhan, perangsang metamorfosis, perangsang gonad, pengendali perluasan sel-sel pigmen (yang menyebabkan warna kulit menjadi lebih gelap), dan pengatur keseimbangan air dan kontraksi otot.
  • Sistem indra terdiri atas mata, lubang hidung, dan telinga. Mata dilindungi oleh membrana niktitans (selaput tidur), kelopak mata atas dan kelopak mata bawah. Dua lubang hidung (nares) berhubungan dengan rongga mulut melalui koane. Telinga berkembang baik, terdiri atas dua bagian, yaitu telinga tengah dan telinga dalam. Amphibia tidak memiliki bagian telinga luar. Telinga bagian tengah berhubungan dengan faring melalui tabung Eustachius. Katak dan bangkong memiliki selaput telinga (membran timpani) pada telinga tengah. Salamander tidak memiliki selaput telinga, sehingga hanya dapat merasakan getaran suara melalui kaki depan.
  • Amphibia memiliki alat kelamin terpisah. Pada umumnya, Amphibia bersifat ovipar, tetapi ada pula yang ovovivipar dan vivipar, di mana telur disimpan di dalam saluran reproduksi betina. Pada katak, sperma dan telur dikeluarkan saat terjadi perkawinan. Telur tidak bercangkang, tetapi terbungkus oleh gelatin dan akan segera kehilangan air jika terpapar udara kering. Fertilisasi terjadi secara eksternal di kolam, di rawa, atau di tempat yang lembap. Telur yang telah dibuahi oleh sperma berkembang menjadi larva (berudu). Berudu hidup di air dan bernapas dengan insang luar kemudian beralih dengan insang dalam. Berudu memiliki ekor panjang bersirip dan tidak berkaki. Berudu mengalami metamorfosis hingga menjadi katak dewasa yang berkaki, tidak berekor, dan bernapas dengan paru-paru dan kulit.

Klasifikasi Amphibia

Terdapat sekitar 4.000 spesies Amphibia, yang terbagi dalam tiga ordo, yaitu Apoda (Gymnophiona), contohnya Ichthyophis glutinosus (salamander cacing), Urodela (Caudata), contohnya Plethodon glutinosus (salamander berlendir), dan Anura (Salientia), contohnya bangkong (Bufo bufo) dan katak pohon (Hyla caerulea).

Reproduksi Amphibia

Fertilisasi eksternal pada katak, internal pada cecilia dan beberapa salamander.
Sangat ketergantungan dengan air Ovipar telur anamniotik – tidak memiliki cangkang, tetapi ditutupi oleh lapisan jel. Menetas dalam bentuk larva yang akuatik, bernapas dengan insang
Umumnya larva/berudu herbivora, beberapa karnivora dan omnivora
Perkembangan larva bervariasi, ada yang 10 hari dan ada yang sampai 20 tahun.

Sistem Indra Amphibia

Kulit, yang mengandung berbagai macam reseptor untuk menerima berbagai perubahan yang terjadi di luar lingkungan kulit amphibia. Reseptor rasa sakit dan suhu terdiri dari ujung syaraf yang bebas dan bertudung, terdapat pada bagian dermis dan beberapa memanjang sampai ke bagian epidermis. Mechanoreseptor yang sensitive terhadap tekanan dan sentuhan, terletak dengan cara yang sama pada kulit.

Telinga, berfungsi untuk mendengarkan gelombang suara dan menjaga keseimbangan, memonitor posisi dan pergerakan kepala hewan. Reseptor untuk kedua fungsi tadi adalah neuromast yang terletak pada telinga sebelah dalam.

Sistem Organ Amphibia

Mata, dengan bentuk yang beragam, mulai dari berukuran besar dan menyolok sampai ke kecil dan tidak nyata, terletak pada bagian lateral kepala. Mata pada katak dan salamander yang terrestrial dan arboreal berukuran besar sampai sedang, yang hidup sebagai penghuni liang dan akuatik biasanya mempunyai mata yang berukuran kecil; mata pada sesilia dan amphibia penggali lubang mengalami degenerasi dan berada di bawah lapisan kulit.

Organ penciuman, dibentuk oleh dua struktur yang berpasangan secara bilateral, yaitu hidung dan organ vomeronasal (organ Jacobson).

Organ perasa (gustatory organ) hampir hanya ada pada katak, berupa piringan pada papilla
fungiformis lidah dan organ nonpapillary yang terdapat hampir di sepanjang lubang buccal, kecuali pada lidah.

Organ indra dalam, yang biasanya merupakan organ proprioceptor yang tertanam di dalam otot, tendon, ligament dan sendi. Organ ini merasakan tegangan dan tekanan pada sistem
musculoskeletal dan memungkinkan otak untuk mengkoordinasikan pergerakan tungkai dan
tubuh.

Peranan Amphibia

● Ekologis: sebagai salah satu mata rantai makanan
● Pengendali serangga hama
● Indikator keadaan lingkungan
● Sumber protein hewani bagi beberapa kalangan
● Bahan percobaan laboratorium
● Nilai estetika (hewan peliharaan, bahan sandang)
● Sintesa zat-zat yang terkandung dalam tubuhnya, misal bufotanin, bufotoksin, mucus
● Dimanfaatkan untuk racun pada senjata (misal racun dari katak famili Dendrobatidae)

Sumber: Irnaningtyas. Biologi untuk SMA/MA Kelas X Erlangga 2013

Amphibia. aadrean.files.wordpress.com

by
Facebook Twitter

Artikel terbaru kami

Artikel terkait Ciri-ciri Amphibia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>