Pengertian Penokohan dan Jenisnya

Tokoh adalah individu yang berperan dalam cerita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, 1990:79). Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.

Tokoh dibedakan menjadi empat, yaitu:

a. Tokoh utama (protagonis)

Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peran utama dalam cerita. la terlibat dalam semua bagian cerita. la bersifat sentral

b. Tokoh yang berlawanan dengan pemeran utama (antagonis)

Tokoh antagonis berperan mempertajam masalah dan membuat cerita menjadi hidup dan menarik.

c. Tokoh pelerai (tritagonis)

Tokoh pelerai adalah tokoh yang tidak memegang peran utama dalam cerita. Biasanya la tidak terlibat dalam semua bagian cerita. Keberadaannya berperan sebagai penghubung antara tokoh protagonis dan antagonis.

d. Tokoh bawahan

Tokoh bawahan disebut juga figuran yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang/mendukung tokoh utama. Adakalanya tokoh ini disebut juga dengan tokoh gagal, badut (the foil) karena hanya bersifat sebagai penghibur.

Penokohan/perwatakan adalah pelukisan tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya termasuk keyakinannya, pandangan hidupnya dan adat istiadat.

Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk melukiskan watak tokoh cerita, yaitu:

a. Langsung

Pengarang melukiskan keadaan dan sifat si tokoh, misalnya cerewet, nakal, jelek, baik, berkulit putih, dan sebagainya.

b. Tidak langsung

Pengarang secara tersamar memberitahukan keadaan tokoh cerita. Watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, percakapan dan tingkah laku tokoh, bahkan dari penampilannya. Watak tokoh juga bisa disimpulkan melalui tokoh lain yang menceritakan secara tidak langsung.

c. Kontekstual

Watak tokoh disimpulkan dari bahasa yang digunakan pengarang secara kontekstual.

Ada tiga macam cara untuk melukiskan atau menggambarkan watak para tokoh dalam cerita, yaitu:

a. Cara analitik

Pengarang menceritakan atau menjelaskan watak tokoh cerita secara langsung

b. Cara dramatik

Pengarang menggambarkan watak tokoh dengan cara berikut.

1. Melukiskan tempat atau lingkungan sang tokoh.

2. Menampilkan dialog antartokoh dan dari dialog-dialog itu akan tampak watak para tokoh cerita, menceritakan tingkah laku perbuatan atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.

3. Penggambaran fisik dan perilaku tokoh.

4. Penggambaran tata kebahasaan tokoh.

5. Pengungkapan jalan pikiran tokoh.

6. Penggambaran oleh tokoh lain.

c. Cara gabungan

Menggunakan kedua cara di atas dengan anggapan keduanya bersifat saling melengkapi.

Loading...

Perhatikan contoh berikut!

a. Teknik analitik

Tiada bandingannya pada zaman, bijaksana, arif budiman. Tiada melanggar hadis dan firman, taat kepada Ilahi Rahman … sekalian larangan tidak berani.

(sumber: Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri)

b. Penggambaran fisik dan perilaku tokoh

Kartawi menelan ludah. la merasa ada gelombang pasang naik dan menyebar ke seluruh tubuh pembuluh darahnya. Di bawah cahaya lampu listrik 10 watt, wajahnya tampak sangat berat dan kecut.

(sumber: Warung Penajem)

c. Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh

Ruang tamu sudah demikian rusak, berantakan, lebih dari kalau anak-anaknya mengadakan pesta ajojing pada ulang tahun mereka. Sementara itu, Roh dan kedua temannya masih saja ngorok dengan sejahtera.

(sumber: roh)

d. Penggambaran tata kebahasaan tokoh

Mereka hanya mengatakan saya lahir subuh, subuh putri fajar katanya. Tapi, kapan? Kapan? Saya sendiri mana tahu kapan, kalau orang tua saya tidak tahu? Mereka hanya bilang sesudah Jepang pergi. Kapan itu Jepang pergi Nyonya? Mestinya Nyonya dan Tuan mengerti. Mungkin Nyonya bisa tahu.

(sumber: Roh)

e. Pengungkapan jalan pikiran tokoh

la ingin menemui anak gadisnya itu pikirannya, cuma anak gadisnya yang masih mau menyambut dirinya. Dan mungkin ibunya, seorang janda yang renta tubuhnya, masih berlapang dada menerima kepulangannya tanpa ketakutan; ingin ia mendekapnya, mencium bau keringatnya.

f. Penggambaran oleh tokoh lain

“Lalu kenapa Kades marah-marah?” Kang Ursin jadi bingung sendiri.

“Kades marah-marah?” Kamsir malah cekikikan. “Asal Akang tahu saja, kemarin juga Kades marah-marah di depan komandan saya. Dia bilang, Camat itu, baru dipindahkan saja sudah macam-macam. Sudah berani banyak tingkah. Lalu setelah Kades pergi komandan saya bilang; pantas saja Kades marah, karena camat baru berani main mata dengan istri mudanya!.”

Bagaimana artikelnya mudah-mudahan bisa membantu.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *