Pengertian Pesan (amanat) dalam Dialog

Pesan/amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton. Ada beberapa cara mengungkapkan pesan, yaitu:

a.       Secara eksplisit
Pengarang mengemukakan pesannya secara langsung (tertera dalam cerita melalui dialog-dialog yang terjadi antar pemain).
b.      Secara  impIisit
Pengarang mengemukakan pesannya secara tidak langsung. Jadi, penonton sendiri yang harus mencarinya (tersirat). Pesan moral dalam pertunjukan teater berdasarkan cerita/lakon yang disajikan biasanya tentang:

a.      adab kehidupan sehari-hari,
b.      krisis ekonomi,
c.       pergantian presiden
d.      suksesi kepemimpinan baik tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan nasional.
e.      teror kejahatan,
f.        tindak asusila,
g.       tindak kriminal,
h.      rasa simpati kepada kaum marjinal, korban pembangunan dan modernisasi,
i.         budaya pop, dan
j.        kenakalan remaja

Pesan moaral dituliskan secara implisit ke dalam cerita sederhana dan dipraktikkan di depan kelas dalam bentuk pentas teater sederhana.

Pesan moral dalam teater diapresiasi dan dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari atau pengalaman pribadi secara lisan.

Loading...

Coba perhatikan naskah drama berikut ini.

Pemain : Abah dan Ambu

Setting  : di kamar Abah pada waktu siang

Judul     : Saingan Abah dalam serial Si Kabayan

Ambu masih membujuk Abah agar segera makan. Tapi, Abah masih tampak tak acuh dan kesal.

Ambu    : Abah teh kesal sama Ambu? Cemburu?

Abah     : Cemburu? Abah cemburu sama Ambu? Tidak, tidak, tidaaak.

Ambu    : Kalau tidak, kenapa atuh tidak mau makan?

Abah     : Abah sudah tahu segalanya tentang Ambu.

Ambu    : Tahu apa?

Abah     : Pokoknya rahasia Ambu sudah Abah pegang

Ambu    : Rahasia apa tea?

Abah     : Ada aja!

Ambu    : Jadi, Abah sudah berani main rahasia-rahasiaan?

Abah     : Kalau Abah buka rahasia Ambu, pasti Ambu nggak akan mau ke pasar lagi.

Ambu    : (tersentak) Jadi …, jadi …, diam-diam Abah mengikuti Ambu ke pasar?

Abah     : Memangnya tidak boleh?

Ambu    : Dan Abah melihat Ambu membeli ikan asin di warungnya Kang Momon?

Abah     : iya! Moooo-mooo-nn!! Kenapa mesti memanggilnya dengan sebutan “akang” segala?

Hmmm, pupujieun! Sebut saja, Si Momon!

Ambu    : Ceritanya Abah teh cemburu?

Abah     : Apa? Cemburu? Tidak, tidak, tidaaak!

Dengan membaca dialog di atas, maka kita akan segera tahu asal daerah para tokohnya. Kata mah, atuh, tea, dan pupujieun merupakan logat yang menunjukkan para tokohnya berasal dari daerah Priangan (Sunda).

Adegan di atas juga menunjukkan sebuah konflik yakni antara tokoh Abah dan Ambu. Tokoh Abah cemburu pada istrinya. Kadar konflik antara kedua tokoh tersebut baru sebatas perselisihan paham, belum sampai pada konflik puncak, misalnya perceraian. Ukuran konflik harus diperankan ketika memerankan suatu tokoh drama. Ukuran atau derajat konflik sangat menentukan terhadap nada bicara, ekspresi jiwa serta  laku yang harus diperankan.

Walaupun singkat, adegan di atas cukup memberikan amanat bahwa sikap tertutup akan menimbulkan kecemburuan dan buruk sangka. Kecemburuan suami istri dapat memancing konflik dan pertengkaran.

Dialog

Dialog merupakan intinya sebuah drama/teater. Dialog dalam drama/teater sebelumnya diatur oleh sutradara atau penulis skenario.

a.       Dialog harus turut menunjang atau mempertegas aksi dan konflik yang terjadi. Dialog haruslah dipergunakan untuk menggambarkan apa yang telah terjadi sebelum lakon itu, apa yang sedang terjadi di luar panggung selama lakon itu berlangsung, dan harus pula dapat mengungkapkan pikiran serta perasaan-perasaan para tokoh yang turut berperan di atas pentas.

b.      Dialog yang diucapkan di atas pentas harus memiliki nilai lebih. Maksudnya harus jauh lebih tajam dan lebih tertib daripada ujaran sehari-hari. Tidak ada kata yang harus terbuang begitu saja. Para tokoh harus berbicara secara jelas dan menuju sasaran. Namun demikian, jalannya dialog harus berlangsung wajar dan terkesan tidak dibuat-buat.

Loading...