Perbedaan antara takdir mua’llaq dan takdir mubram

| Diperbaharui: 24 February, 2017
Takdir mua’llaq adalah takdir yang erat kaitanya dengan ikhtiar manusia. Misalnya, seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian.Advertisement

Sedangkan takdir mubram adalah takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat ditawar-tawarkan lagi oleh manusia. Misalnya ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit, atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapak kulit putih, dan sebagainya.

Kenyataan menunjukan bahwa siapapun orangnya tidak mampu mengetahui takdirnya. Jangan peristiwa masa depan, hari esok terjadi apa, tidak ada yang mampu mengetahuinya, siapapun yang berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan hukum Alloh SWT. Di sertai dengan do’a, ikhlas dan tawakal kepada Alloh SWT. Di pastikan akan memperoleh keberhasilan dan mendapatkan cita-cita sesuai tujuan yang ditetapkan.

Berkaitan dengan makna beriman kepada Qodo dan Qodar dapat diketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Alloh SWT. Sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasibnya tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap kewajiban untuk usaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Jangan sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan berbuat kejahatan.

Advertisement

Pernah terjadi pada zaman khalifah umar bin khattab, seorang pencuri tertangkap dan di bawa kehadapan khalifah umar. Beriman kepada takdir selalu terkait dengan empat hal yang selalu berhubungan dan tidakn terpisahkan. Keempat halk itu yaitu iman kepada takdir itu sendiri, ikhtiar, do’a dan tawakal. Takdir allah merupakan iradah (kehendak) allah. Oleh sebab itu, takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.nasib manusia telah di tentukan Allah sejak sebelum manusia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha atau ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.

Advertisement

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *