Puisi Cinta Setia Merindu

Puisi Cinta Setia Merindu

Resah rindu terasa dalam jiwa ini
Saat teringat kenangan bersamamu
Galau hati terasa kian tak menentu
Ingin rasanya selalu bersamamu

Tanpa dirimu harikupun terasa hampa
Tak ada lagi keceriaan dalam hidupku
Kuingin mengulang kembali masa yang indah
Ingin rasanya selalu bersamamu

** walau jarak kini memisahkan kita
namun cinta ini hanyalah untukmu
biarlah waktupun terus berputar
asal kau tetap setia menanti

2
tanpa dirimu harikupun terasa hampa
tak ada lagi keceriaan dalam hidupku
kutemui bayangmu disetiap rasa rinduku
kuingin selalu kau tetap bersamaku

** walau jarak kini memisahkan kita
namun cinta ini hanyalah untukmu
kuingin dalam waktu yang terus berputar
tetap kau simpan setia dicintaku

tanpa dirimu cerita tersimpan tanya
tak ada lagi makna indah hidupku ini
ku temui indahmu di setiap mimpi khayalku
ku ingin rinduku berlabuh dihatimu

Puisi Cinta Setia Merindu

Resah rindu begitu jelas dalam hatiku
Saat ku cari makna di setiap langkahku
Kubasuh hati dengan selalu mengingatmu
Ingin kujaga segala keindahanmu

Biarkan mimpi menjadi kata hati
Hanyalah ini yang selalu menemani
Hati ini tak sanggup ku sembunyi
Ingin disini labuhkan mimpi-mimpi

walau jarak kini memisahkan kita
namun cinta ini hanyalah untukmu
kuingin waktumu selalu mengingatku
dan tetap kau simpan setia dimimpiku

Puisi Cinta Setia Merindu
Puisi Cinta Setia Merindu

Ringanlah Esok Hari

Jauh sudah jalan kita tempuh

Susuri waktu tanpa mengeluh

Berdua kita percaya

Dalam hidup ada derita

 

Tak perlu malu kekasih

Tak pernah ada semangat yang hina

Jangan percumakan keringat kita

Kita jemput harapan dengan sederhana

 

Duduklah disampingku kekasih

Ceritakan elegi kita esok hari

Untaikan setiamu dalam riang tawa

Ku butuh sejenak mimpi-mimpi kita

 

Tak perlu ragu kekasih

Sebab hati kita telah dirangkul cinta

Peluklah harapan ini dengan asamu

Niscaya ringanlah esok hari

Potret

 

Siang datang lagi

Membangunkan mimpi yang terlelap

Terangi ambisi yang suka bergumam

Entah mengapa

Aku selalu muak

Ketika debu-debu mulai terbang

Ketika bising mulai menari

Ternyata aku tak adil

Merindukan bening yang hanya berteman hening

Inginkan makna yang hanya tersimpan hitam

O… matahari

Sidrah

 

kulihat satu pohon di ujung sana

kecil

gemuruh angin di sini

tak sanggup getarkan daunnya

tenang

setenang senyum Pengasih

teduh

tak seteduh jarak yang menjauh

Harap

 

Butir embun di daun

Hiasi pagi

Matahari

Mata hati

Aku masih sendiri

Mencari dan terus mencari

Hari ini dan hari nanti

Yang tertahan hari lalu

Bingkai Kelam

 

setelah fajar

bintang tersisa satu

menghiasi telaga biru

terdiam …

di bingkai kelam

sendiri …

di tatahan waktu

berlari …

Loading...

aku ingin susuri gelombang

menjumpaimu yang tak pernah menghilang

Dialog

 

kala disini

di balik segudang marah

emosi menganga

maut menyapa

“hai, segumpal tubuh

darahmu cukup manis tuk kurengguk sekarang

dagingmu  cukup lezat tuk ku santap kini”

hantu-hantu datang

tawarkan bantuan

“manusia, aku disini temanimu

setia sampai ujung rindu”

setan datang

“engkau tahu,

aku ini orang baik

penilaianmulah yang tak adil

di benak aku adalah makhluk, bukan hamba”

malaikat datang,

“jangan tergoda”

keheningan berbisik lirih

“kawan, cukuplah

engkau bersama dirimu sendiri

tak perlu hantu, setan, pun malaikat

engkau adalah ketua”

 

apakah akan selamanya seperti ini?

Keputusan cukup menyiksa

Untukmu

kau tak berpeci, hanya berambut

kau tak bersarung, hanya sedikit bosan

kau tak bersepatu, hanya melangkah

kau hanya tarian pena yang bertanya

hari lalu dan hari ini.

 

ya, aku bertanya kepadamu

“kapan kita memulai?”

kau selalu menjawab

“kemarin”

ah, busit

waktu menjalar membuat kita terkapar

terkadang liar

bukan bisa ular, bukan semak belukar

tapi, mungkin kita sering lupa akar

 

ya, aku berkata kepadamu

“ketuaan adalah anak-anak tak berdosa dari usia tua

mereka tak mengerti

apa esok hari”

kau hanya berkata

“akankah kita setua ini?”

tua, muda

tak ada beda

hanya nama

yang selalu penuh pesona, penuh tanya

dimana kerja?

dimana karya?

 

denganmu

aku hanya mata yang tak bisa berkedip

hanya bibir yang tak bisa bersuara

serpihan kata, ribuan imaji

tertahan di ketololanku dan kepintaran kita

aku tak ingin berkata

“hari esok ada di Tangan Tuhan”

 

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *