Struktur dan fungsi tubuh Insecta

Ukuran tubuh insecta bervariasi, pada umumnya memiliki panjang 2 – 40 mm. Insecta ada yang berukuran mikroskopis, namun ada pula yang berukuran panjang sekitar 260 mm, misalnya Phobaeticus serratipes. Tubuh insecta terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala (kaput), dada (toraks), dan perut (abdomen). Toraks terdiri atas tiga segmen (ruas) dan pada setiap ruas terdapat sepasang kaki jalan sehingga kaki insecta berjumlah tiga pasang atau enam buah. Abdomen terdiri atas 11 ruas, terkadang beberapa ruas bersatu sehingga jumlah ruas abdomen menjadi kurang dan 11 ruas.

anatomi  Insecta

anatomi Insecta

Pada kepala terdapat sepasang mata faset (mata majemuk), mata tunggal (oseli), sepasang antena, dan alat mulut. Alat mulut terdiri atas maksila, mandibula, palpus, labrum (bibir atas), dan labium (bibir bawah). Mata majemuk memiliki sejumlah omatidium yang merupakan unit penerima cahaya. Bagian luar setiap omatidium ditutupi oleh kornea transparan atau lensa. Permukaan lensa disebut faset. Faset berbentuk segiempat atau segienam. Ukuran dan jumlah faset mata majemuk insecta berbeda-beda. Insecta yang aktif pada malam hari memiliki faset dengan ukuran yang lebih besar dibanding insecta yang aktif pada siang han. Insecta yang aktif terbang memiliki lebih banyak faset. Palpus berfungsi sebagai alat perasa. Pada antena terdapat alat penciuman yang mengandung kemoreseptor. Insecta yang mengeluarkan suara memiliki organ timpanum atau alat dengar pada bagian tubuh tertentu.

Pada umumnya, insecta memiliki sepasang atau dua pasang sayap dengan bentuk yang bervariasi. Sayap terdapat pada segmen ke-2 dan ke-3 toraks. Tubuh insecta ditutupi oleh kutikula yang mengandung zat tanduk yang berfungsi sebagai eksoskeleton. Pada bagian tubuh tertentu, lapisan kutikula menebal dan mengeras. Lapisan kutikula yang tebal dan keras disebut sklerit. Insecta mengalami pelepasan eksoskeleton (ekdisis) atau molting saat terjadi perubahan ukuran dan bentuk tubuh dalam siklus hidupnya. Perubahan bentuk tubuh yang terjadi selama siklus hidupnya disebut metamorfosis. Tidak semua insecta mengalami metamorfosis. Insecta yang tidak mengalami metamorfosis disebut ametabola, contohnya Lepisma saccharina (kutu buku).

Metamorfosis insecta dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu metamorfosis tidak sempurna (hemimetabola) dan metamorfosis sempunna (holometabola).

  • Metamorfosis tidak sempurna (hemimetabola): telur → nimfa (insecta muda) → imago (senangga dewasa). Nimfa memiliki bentuk seperti insecta dewasa tetapi ukuran tubuhnya kecil dan tidak memiliki sayap. Nimfa akan mengalami beberapa kali ekdisis dan tumbuh sayap hingga menjadi insecta dewasa. Contohnya tenjadi pada jangknik (Gryllus sp.), kecoak (Periplaneta americana), belalang sembah (Stagmomantis), dan capung jarum (Argia). Perkembangan serangga ini berubah secara bertahap dalam bentuk luarnya dari telur sampai bentuk dewasa. Bentuk pradewasa disebut nimfa, mempunyai kebiasaan serupa dengan yang dewasa. Kelompok serangga ini disebut juga Paurometabola. Contohnya antara lain, kutu (Phthiraptera), kepik (Hemiptera), rayap (Isoptera), belalang (Orthoptera), lipas (Dictyoptera). Selain itu ada pula serangga yang termasuk di dalam kelompok metamorfosis sederhana tetapi stadium pradewasanya hidup di air, contohnya ialah capung (Odonata). Bentuk pradewasa disebut naiad atau tempayak. Kelompok serangga ini disebut juga Hemimetabola.
  • Metamorfosis sempurna (holometabola): telur -> larva (ulat atau belatung) -> pupa (kepompong) -> imago (dewasa). Perubahan struktur tubuh pada serangga ini sangat besar dari berbagai stadium. Serangga ini dianggap orang sebagai serangga yang maju perkembangannya dalam sejarah evolusi serangga. Kelompok serangga ini disebut juga Holometabola. Contohnya adalah lalat, nyamuk (Nematocera), pinjal (Siphonaptera), kumbang (Coleoptera), kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), semut, lebah dan tawon (Hymenoptera).

Sistem pencenaan insecta lengkap, yaitu mulut, faring (kerongkongan), esofagus, tembolok untuk menyimpan makanan, lambung kelenjar penghasil enzim, usus, rektum, dan anus. Tipe mulut insecta bervariasi; ada tipe menggigit dan mengunyah (jangkrik, belalang, kumbang, capung), tipe menggigit dan menjilat (lebah, lalat), tipe menusuk dan mengisap (nyamuk), dan tipe mengisap (kupu-kupu).

Insecta memiliki sistem peredaran darah terbuka. Jantung berbentuk tabung langsing yang terdapat di bagian dorsal. Insecta yang terbangnya sangat cepat memiliki “jantung toraks” untuk memasok darah ke sayap. Darah insecta berwarna hijau, kuning, atau tidak berwarna.

Pada umumnya insecta bernapas dengan sistem trakea. Beberapa larva atau nimfa insecta air bernapas dengan insang trakea. Udara masuk ke dalam trakea melalui lubang-lubang di kulit yang disebut spirakel. Beberapa insecta kecil seperti Collembola tidak memiliki sistem trakea dan bernapas dengan seluruh permukaan tubuhnya.

Alat ekskresi insecta berupa tubulus Malpighi yang berjumlah 2 – 250 helai. Sisa ekskresi berupa asam urat yang merupakan sisa metabolisme protein. Pengeluaran air oleh tubuh sangat minim karena insecta memiliki lapisan lilin pada kutikula yang mencegah hilangnya air. Selain itu terjadi penyerapan air kembali oleh rektum. Hal inilah yang menyebabkan insecta mampu beradaptasi di lingkungan darat yang kering.

Insecta memiliki sistem saraf tangga tali yang terdiri atas otak, ganglion subesofagus, dan benang saraf ventral.

Sumber: Irnaningtyas. Biologi untuk SMA/MA Kelas X Erlangga 2013

Artikel terkait Struktur dan fungsi tubuh Insecta

  1. Klasifikasi Insecta
  2. Reproduksi Serangga dan Siklus Hidup
  3. Peranan Serangga dalam Kehidupan
  4. Pengelompokkan Umum Insekta
  5. Sistem Ekskresi Tubulus Malpighi Serangga
  6. Sejarah Evolusi Insekta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>