Agresi Militer Belanda I dan II dan Kedatangan Sekutu, Nica

Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan secara serentak terhadap daerah-daerah Republik. Serangan ini diarahkan ke Pulau Jawa dan Sumatra. Serangan militer ini oleh pihak Republik dikenal sebagai Agresi Militer Pertama Belanda. Pihak Belanda menyebut aksi agresinya sebagai Operasi Produk karena serangan pertama yang dilancarkannya ditujukan pada sasaran yang bersifat ekonomis.

Dalam waktu singkat, Belanda berhasil menguasai Jakarta dan kota-kota penting di Jawa Barat, seperti Bogor, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis. Di Jawa Tengah, pasukan Belanda melancarkan serangan ke Semarang, Cilacap, Brebes, Pekalongan, Tegal, Banyumas, Purbalingga, Purwokerto, dan Pemalang. Di Jawa Timur, agresi dilakukan dalam dua hari berturut-turut dan berhasil menguasai Surabaya, Gresik, Malang, Mojokerto, Panarukan, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi Madiun, Pasuruan, Probolingga, dan Lumajang.

Upaya menguasai Sumatra cukup sulit, karena wilayahnya lebih luas, medannya liar, dan sulit dimasuki. Meskipun demikian, Belanda dapat merebut beberapa pulau disekitar Sumatra dan kota-kota penting di Sumatra, seperti Medan, Padang, Palembang, dan lain-lain.

Agresi Militer Belanda Pertama mengundang reaksi dunia. India dan Australia mengajukan usul agar masalah Indonesia dibicarakan dalam Dewan Keamanan PBB. Usul ini diterima baik oleh PBB, sehingga pada 1 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian tembak-menembak Tiga hari kemudian, Indonesia dan Belanda mengumumkan gencatan senjata. Dengan demikian, sejak 4 Agustus 1947 berakhirlah Agresi Militer Belanda yang pertama.

Agresi Militer Belanda Kedua (19 Desember 1948 – 28 Januari 1949)

Pada 19 Desember 1948, Belanda di bawah koordinasi Dr. Bell melancarkan Agresi Militer Kedua. Dengan pasukan lintas udara yang dimilikinya, Belanda terlebih dahulu menyerang pangkalan udara Maguwo. Setelah Maguwo dikuasai, sasaran beralih langsung ke ibu kota Rl Jogjakarta. Pesawat-pesawat terbang Belanda segera menghujani jalan, jembatan, dan barak-barak militer dengan bom dan roket.

Dalam serangan itu, Belanda berhasil menawan presiden, wakil presiden, dan beberapa pejabat tinggi lainnya. Presiden Soekarno diterbangkan ke Prapat (dekat Danau Toba) dan kemudian ke Bangka. Wakil Presiden Hatta langsung ditawan di Bangka. Setelah itu Belanda menyiarkan berita ke seluruh dunia yang menyatakan bahwa Rl sudah tidak ada dan perlawanan TNI sama sekali tidak berarti. Propaganda semacam ini jelas menyudutkan kedudukan Rl di mata dunia internasional.

Agresi Militer Belanda Kedua ini mengundang reaksi dan kecaman dari dunia internasional. Belanda dinilai selalu mengganggu ketertiban dan perdamaian dunia. Belanda pun dianggap tidak menghormati setiap persetujuan yang dibuatnya. Oleh karena itu, Dewan Keamanan PBB mulai membicarakan Agresi Militer Belanda Kedua ini. Dalam pertemuan 28 Januari 1949, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang memerintahkan penghentian semua operasi militer Belanda dan penghentian semua aktivitas gerilya.

Aksi militer Belanda kedua ini ternyata juga tidak didukung negara-negara boneka ciptaannya. Negara Indonesia Timur dan Negara Pasundan mencela serta memprotes Agresi Militer Belanda itu. Demikian juga Amerika Serikat yang secara positif telah mengubah pandangan atas Indonesia, segera memberikan tekanan politik kepada Belanda. Amerika Serikat pun mengancam tidak akan memberikan bantuan dana dari program Marshal Plant kepada Belanda.

Akibat terus-menerus mendapatkan tekanan politik dari dunia internasional dan makin besarnya kemampuan pasukan Republik melancarkan serangan gerilya, akhirnya Belanda menerima resolusi yang diajukan Dewan Keamanan PBB. Resolusi itu telah mengakhiri aksi Belanda dalam Agresi Militer Kedua.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda adalah sebagai berikut.

1. Sekutu dan NICA melakukan provokasi dan terror terhadap bangsa Indonesia.

2. Timbulnya semangat antikolonialisme di kalangan rakyat Indonesia.

3. Belanda melancarkan agresi militer terhadap wilayah teritorial Republik Indonesia.

Kedatangan Sekutu dan NICA di Indonesia

Pada 16 September 1945, rombongan perwakilan Sekutu mendarat di Tanjung Priok (Jakarta) dengan menggunakan Kapal Cumberland. Rombongan ini dipimpin Laksamana Muda W.R. Patterson. Dalam rombongan ini ikut pula C.H.O Van der Plas yang mewakili Dr. H.J. Van Mook kepala NICA.

Sekutu menugaskan sebuah komando khusus untuk mengurus Indonesia dengan nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Komando khusus yang dipimpin Letjen Sir Philip Christison ini mempunyai tugas sebagai berikut.

a. Menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Indonesia.

b. Membebaskan para tawanan perang dari interniran Sekutu.

c. Melucuti dan memulangkan tentara Jepang.

d. Mencari dan mengadili para penjahat perang.

Loading…

Artikel terkait