Apa itu Pararaton

Pararaton ditafsir selesai ditulis pada tahun 1287 Saka (1365 M). Pararaton menceritakan keadaan Jawa pada zaman Hindu hingga datangnya Islam. Disebutkan bahwa ada masa yang disebut zaman kaluthuk, yaitu masa jauh sebelum kedatangan orang India ke Nusantara (zaman prasejarah). Lalu, datanglah orang-orang dari negeri Kalingga, Celong (Sailan atau Sri Lanka), dan pesisir pantai Semenanjung Malaka dan Kamboja.

Dituliskan pula bahwa pada zaman kuno telah terdapat bandar-bandar ramai, di antaranya Tunsun yang kemudian pindah ke Kalah (Kerah) di Malaka. Kedatangan orang-orang ke Jawa banyak dicatat dalam kronik-kronik Cina, yang ternyata banyak kesamaannya dengan isi Pararaton. Orang Hindu (India) datang ke Indonesia mengikuti arah angin yang ke tenggara. Dijelaskan pula rute-rute pelayaran dagang pada masa itu, dimulai dari Ambon, Banda, Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), pantai utara Jawa, lalu menyusuri Sumatera sebelah timur hingga di pesisir Semenanjung Malaya.

Dari Malaka ini rute dilanjutkan dan bertemu dengan jalur pelayaran dari Cina, yaitu Kanton (Katogara), Pulau Kondor, Lahore, Sanggora (Pattani). Bangsa India maupun Cina bila hendak pergi ke Molokus (Maluku atau Moluska) dari Bandar Kalah yang jaraknya cukup jauh, harus beristirahat dulu di Sumatera atau Jawa. Kedatangan orang Hindu ke Indonesia, begitu Pararaton menyebutkan, pertama kali sekitar abad ke-7 M. Selain masalah ekonomi, Pararaton menguraikan masalah keagamaan Hindu Siwa, Waisnawa, dan Brahma; serta menjelaskan bahwa Hindu pun berkembang di Madura,

Bali, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sumbawa, selain di Tanah Jawa. Pararaton menerangkan jatuh-bangun kerajaan-kerajaan di Jawa, dari mulai Raja Sanjaya Mataram, kehidupan Ken Arok dalam mencapai takhta Singasari, usaha Raden Wijaya menipu tentara Kubilai Khan yang hendak menyerang Tumapel, raja-raja Majapahit, peperangan antara Majapahit melawan Blambangan, hingga kedatangan orang-orang Islam di Jawa yang mulai merongrong kewibawaan Majapahit.

Loading...