Cara Penyelesaian Sengketa Internasional

Sengketa internasional merupakan sebuah pertikaian yang terjadi baik antara suatu negara dengan negara lainnya, suatu negara dengan individu, maupun suatu negara dengan lembaga yang merupakan subjek hukum lainnya. Perkara ini dapat muncul karena bebagai penyebab, yaitu: pelanggaran hak asasi manusia dan diskriminasi/tindakan tidak adil lainnya yang memberikan batasan-batasan yang merugikan individu/kelompok tertentu.

Penyebab lainnya ialah perbedaan SARA (suku, ras dan agama) yang berpotensi mendatangkan konflik, adanya persaingan tidak sehat yang memicu pertikaian, serta pelanggaran pada berbagai hukum atau perjanjian internasional yang telah dibuat, seperti suatu negara. Apabila dibiarkan begitu saja, sebuah sengketa internasional akan mengakibatkan pengaruh negatif bagi negara yang menghadapi sengketa.

Stabilitas suatu negara baik dari segi ekonomi maupun politik dapat menjadi terganggu karena renggangnya hubungan antar negara bersengkata tersebut. Untuk itu, perlu dilakukan upaya penyelesaian agar sebuah sengketa internasional dapat terpecahkan dengan baik. Proses penyelesaian sengketa internasional dapat dilakukan dengan dua jenis cara, yakni melalui jalan damai dan jalan kekerasan.

Pada jalan damai, langkah yang diambil untuk mengakhiri persengkataan yang terjadi dilakukan berdasarkan isi prisip-prinsip dalam hukum internasional. Hukum internasional tersebut dibuat untuk menjaga hubungan baik seluruh negara yang terlibat dan berisi berbagai aturan yang harus dijalankan agar dapat menghormati hak dan kewajiban suatu negara.

Apabila terjadi permasalahan atau pelanggaran, hukum internasional menyediakan pula berbagai pilihan prosedur penyelesaian yang dapat ditempuh oleh pihak yang bersangkutan, seperti negosiasi (perundingan), mediasi dan konsiliasi dengan pihak lain misalnya PBB, dan arbitrasi (negara yang bersengkata menunjuk negara lain untuk membantu menyelesaikan permasalahan).

Sebaliknya, pada jalan kekerasan, penyelesaian dapat dilakukan dengan melakukan pemutusan hubungan pada suatu negara (boikot), melakukan hal yang merugikan negara lain tanpa melanggar hukum (retorsi), melakukan pemboikotan atau permintaan ganti rugi (reprisal), dan melakukan pertikaian dengan menggunakan senjata dengan maksud untuk menaklukan lawan (perang).

Dari kedua jenis cara penyelesaikan sengketa internasional tersebut, hukum internasional lebih menyarankan untuk memecahkan sengketa melalui jalan damai. Apabila tidak juga dapat terpecahkan, barulah jalan kekerasan boleh digunakan tetapi tetap berpedoman sesuai aturan yang ada.