Ciri-ciri Kehidupan Masyarakat Berburu dan Berpindah-pindah

Teori Asal Usul Manusia di Indonesia

Berbagai pendapat tentang asal-usul manusia di Indonesia banyak bermunculan. Sedikitnya ada 4 teori yang menjelaskan tentang asal usul nenek moyang indonesia. 4 teori tersebut ialah teori nusantara, teori out of Taiwan, Teori out of Afrika, dan teori Yunan. Teori nusantara mengemukakan bahwa manusia yang bertempat di Indonesia tidak berasal dari negara bagian manapun. Nenek moyang Indonesia berasal dari nusantara sendiri.

Pernyataan ini diperkuat dengan bukti bahwa masyarakat melayu adalah masyarakat yang beradab tinggi. Suatu peradaban tidak akan mungkin bisa dicapai dengan waktu yang sangat singkat. Peradaban tersebut bisa dicapai dengan proses yang lama. Teori Out of Taiwan ini didukung  oleh Harry Truman Simanjutak.

Menurut teori out of taiwan ini mengungkapkan bahwa bangsa yang menghuni di kepulauan nusantara merupakan bangsa dari Taiwan yang bukan termasuk daratan cina. Berdasarkan teori out of Afrika, bangsa modern yang menempati indonesia berasal dari daratan afrika. Pernyataan ini dikuatkan dengan adanya bukti bawah genetika yang ada pada manusia di indonesia sama dengan genetika yang ada pada manusia di afrika yang hidup 200-300 tahun yang lalu.

Diduga manusia afrika melakukan migrasi pada beberapa juta tahun silam menuju asia barat melalui dua jalur, yakni jalur sungai nil dan laut merah. Sedangkan menurut teori Yunan, manusia yang ada di indonesia merupakan keturunan dari nenek moyang yang berasal dari Yunan, salah satu daratan yang berada di Cina.

Ciri-ciri Kehidupan Berburu dan Berpindah

Selain beberapa teori tersebut, yang menjadi ciri khas dari orang zaman dulu ialah hidup dengan cara berburu dan berpindah-pindah. Terdapat beberapa ciri-ciri yang menunjukkan bahwa manusia purba melakukan perburuan dan selalu berpindah tempat. Diantaranya ialah kebutuhan makanan dan minuman tergantung pada alam.

Sehingga ketika di satu tempat sudah habis stok makanannya, maka mereka berburu ke tempat yang lain. Pada saat itu, manusia purba belum mengenal bercocok tanam dan masih menggunakan alat yang terbuat dari batu yang masih kasar untuk melengkapi aktifitas keseharian mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *