Kondisi dan proses sosial menghasilkan berbagai perilaku sosial di masyarakat, termasuk perilaku kejahatan. Kejahatan sebagai gejala sosial merugikan anggota masyarakat. Kita dapat melihat berita tentang kejahatan di televisi, Koran, radio, atau internet yang semakin angkanya semakin meningkat.

Bahkan, mungkin kita pernah melihat suatu peristiwa kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya tindak kejahatan menciptakan rasa tidak aman pada masyarakat. Contoh tindak kejahatan adalah pencurian, penjambretan, pencopetan, perampokan, pemalakan, pembu.nuhan, penculikan dan korupsi.

Apabila kejahatan dikaitkan dengan konsep-konsep sosiologi seperti penyimpangan sosial, nilai sosial, dan norma sosial, maka kejahatan dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok terhadap nilai dan norma atau peraturan perundang- undangan yang berlaku di masyarakat. dalam pendekatan sosiologi. Kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama.

Yang menghasilkan perilaku-perilaku sosial lainnya. Analisis terhadap kondisi dan proses-proses tersebut menghasilkan dua kesimpulan, yaitu sebagai berikut. pertama, terdapat hubungan antara variasi angka kejahatan dan variasi organisasi-organisasi sosial dimana kejahatan tersebut terjadi. Maka, angka-angka kejahatan dalam masyarakat, golongan-golongan masyarakat, serta kelompok-kelompok sosial mempunyai hubungan dengan kondisi-kondisi dan proses-proses. Misalnya gerak sosial, persaingan serta pertentangan kebudayaan, ideologi politik, agama, ekonomi, dan sebagainya.

Kedua, para sosiolog berusaha untuk menentukan proses-proses yang menyebabkan seseorang menjadi penjahat. Analisis ini bersipat sosial psikologis. Beberapa ahli menekankan pada beberapa bentuk proses seperti imitasi, pwlaksanaan peranan sosial, asosiasi (diperensial), kompensasi, identifikasi, konsepsi diri pribadi (self-conception), dan kekecewaan yang agresif sebagai proses-proses yang menyebabkan seseorang menjadi penjahat.

Berkaitan dengan pendekatan sosiologis tersebut, terhadap teori-teori sosiologis tentang prilaku jahat. Salah satu teori dikemukakan oleh E. H Sutherland. Menurutnya, seseorang berprilaku jahat dengan cara yang sama dengan prilaku yang jahat. Artinya, prilaku jahat dipelajari dalam interaksi dengan orang lain, dan orang tersebut mendapatkan prilaku jahat sebagai hasil interaksi yang dilakukan dengan orang-orang yang berprilaku dengan kecendrungan melawan norma-norma hokum yang ada. Sutherland menyebutnya sebagai proses asosiasi yang diferensial (differential association), kerna apa yang dipelajaridalam proses tersebut sebagai akibat interaksi dengan pola-pola prilaku yang jahat, dengan apa yang dipelajari dalam proses interaksi dengan pola-pola prilaku yang tidak suka pada kejahatan. Apabila seseorang menjadi jahat, maka hal itu disebabkan orang tersebut mengadakan kontak dengan pola-pola prilaku jahat dan juga karena dia mengasingkan diri terhadap pola-pola prilaku yang tidak menyukai kejahatan tersebut.

Proses selanjutnya bagian pokok dari pola-pola prilaku jahat tersebut dipelajari dalam kelompok-kelompok kecil yang bersipat intim. Alay-alay komunikasi tertentu seperti buku, surat kabar, televise, radio, Maupin internet memberkan pengaruh-pengaruh tertentu, yaitu dalam memberikan sugesti dia mengasingkan diri terhadap pola-pola prilaku jahat.