6 Faktor Intern Pendorong Lahirnya Pergerakan Nasional

Enam (6) point di bawah ini merupakan faktor intern pendorong tejadinya pergerakan nasional yang pada mulanya pergerakan-pergerakan yang ada hanya bersifat kedaerahan dan belum menyeluruh meliputi wilayah nusantara. Kesadaran akan pentingnya rasa nasionalisme dari berbagi daerah yang ada di Indonesia itu dilatar belakangi 2 faktor, yakni faktor Intern dan ekstern. berikut ini 6 faktor intern pendorong pergerakan nasional.

Penderitaan Rakyat Indonesia

Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis. Di bawah pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, rakyat Indonesia banyak mengalami perlakuan yang tidak adil. Pelaksanaan tanam paksa, politik devide et impera, monopoli perdagangan, kerja rodi, dan perlakuan diskriminatif merupakan bukti sejarah yang tidak dapat dilupakan dari hati nurani rakyat Indonesia. Penderitaan inilah yang menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran nasionalismenya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan. Atas prakarsa para kaum intelektual, persatuan itu dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern. Perjuangan tidak lagi menggunakan kekuatan senjata tetapi dengan menggunakan organisasi-organisasi pemuda.

Timbulnya Elite Nasional (Kaum Terpelajar Pribumi)

Golongan liberal di negeri Belanda yang mendapat dukungan besar dari kalangan masyarakat, mendesak pemerintah Belanda untuk meningkatkan kehidupan di wilayah jajahan. Salah satu penganut politik liberal adalah Van Deventer. Desakan ini mendapat dukungan dari pemerintah Belanda. Dalam pidato negara pada tahun 1901, Ratu Belanda, Wihelmina mengatakan “Negeri Belanda mempunyai kewajiban untuk mengusahakan kemakmuran dari penduduk Hindia Belanda(Indonesia)”. Pidato tersebut menandai awal kebijakan memakmurkan Indonesia yang dikenal sebagai Politik Etis atau Politik Balas Budi.

Perkembangan Politik Etis

Ketidakadilan , kemiskinan, diskriminasi, dan pembodohan yang terjadi di Indonesia ternyata diamati oleh negarawan-negarawan di Belanda. Muncul tokoh-tokoh yang mengkritik pemerintahannya sendiri. Kaum tersebut bernama kaum liberal atau kaum yang berasal dari bangsa Asing tetapi membela Negara Indonesia. Salah satu tokoh yang duduk di barisan utama pengkritik adalah Van Deventer, artikelnya yang dimuat dimajalah De Gids dengan judul “Een Eereschuld(Hutang Kehormatan)” bercerita bahwa kekosongan kas negara Belanda telah terpenuhi oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah berjasa membantu pemerintah Belanda dalam pemulihan resesi ekonomi. Hutang Budi itu wajib dibayar dengan peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia melalui edukasi (menyelenggarakan pendidikan), imigrasi (membangun sarana dan jaringan pengairan), dan irigasi (mengorganisasi perpindahan penduduk).

Berbagai kritik yang dilontarkan telah menggerakkan pemerintah Belanda untuk menerapkan kebijakan Politik Etis. Politik Etis dilakukan dengan membuka sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Jika dikaji lebih mendalam, pengadaan sekolah itu bukan murni politik balas budi sebab keberadaan sekolah itu juga membantu Belanda untuk mendapatkan tenaga kerja yang terdidik dan murah.

Beberapa sekolah yang berkembang pada masa penjajahan Belanda adalah Sekolah Rakyat (Volkschool), Sekolah Guru (Kweekschool), MULO (Meer Uitgebrid Logee Onderwijs), AMS (Algemeene Middlebare School), Sekolah Teknik (Technische Hogeschool) sekarang menjadi ITB, Sekolah Dokter Jawa STOVIA (School Ta Opleiding van Inlandsche Artsen), Rechts School Kundige Hogeschool (sekarang Fakultas Hukum UI) dan Geneskundige Hogeschool (sekarang Fakultas Kedokteran UI) dan Landbouw Hogeschool (sekarang IPB).

Berbagai ideologi seperti liberalisme, sosialisme, dan komunisme berhasil diserap putra Indonesia yang belajar di luar negeri. Dengan bekal pengetahuan tersebut, mereka memelopori usaha untuk mendapatkan kemerdekaan. Dari kaum terpelajar itulah lahir berbagai gagasan yang mengajarkan betapa pentingnya persatuan dan perjuangan dalam rangka merebut kemerdekaan.

Sejarah Masa Lampau yang Gemilang

Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai Negara nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara. Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan bangsa Indonesia untuk senantiasa dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat menggugah perasaan nasionalisme golongan terpelajar pada dekade awal abad 20.

Dominasi Ekonomi Kaum Cina di Indonesia

Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum pedagang Cina semakin membuat kesal para pedagang pribumi. Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi terjadi ketika keturunan Cina mendirikan perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901. Kekesalan tersebut diciptakan oleh Belanda untuk menimbulkan rasa iri hati rakyat Indonesia kepada keturunan Cina. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi secara bersama pengaruh dari pedagang Cina.

Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional

Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia. Istilah Indonesia, Indonesisch, dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah banyak digunakan oleh kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf Bastian, Van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain. Penggunaan istilah Indonesia sebagai identitas nasional mencapai puncaknya pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Pktober 1928 yang mencetuskan kebulatan tekad dalam Sumpah Pemuda. Istilah Indonesia sebagai arti politik ketatanegaraan secara resmi digunakan pada masa Revolusi Agustus 1945. Dan puncaknya ketika dikumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Loading…

Incoming search terms:

  • faktor dari dalam negeri intern munculnya nasionalisme Indonesia adalah
  • faktor eksternal yang mendorong lahirnya pergerakan nasional indonesia adalah
  • Faktor timbulnya pergerakan nasional
  • faktor yang mempengaruhi pergerakan nasional
  • faktor yg mendorong timbulnya kesadaran nasional
  • uraikan tentang faktor internal yang mempengaruhi lahirnya pergerakan nasional indonesia

Artikel terkait