Faktor-faktor yang Memaksa Belanda Keluar dari Indonesia

Ada begitu banyak faktor yang memaksa Belanda untuk keluar dari Indonesia, yang akan dijelaskan dalam artikel kali ini secara jelas. berikut faktor-faktor tersebut;

1. Boikot Ekonomi dari Negara-negara di Asia

Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru mengundang sejumlah negara Asia dan negara lain untuk mengikuti konferensi di New Delhi pada 20 – 23 Januari 1949. Pertemuan ini dihadiri sembilan belas negara Asia, termasuk Australia dan New Zealand. Para peserta konferensi lantas mengeluarkan resolusi untuk diajukan kepada Dewan Keamanan PBB. Di samping itu, mereka memutuskan boikot keras terhadap kepentingan ekonomi Belanda. Hal ini merupakan pukulan keras bagi Belanda dan sebagai isyarat bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak mungkin mengabaikannya.

2. Tekanan Politis dan Keuangan dari Amerika Serikat

Amerika Serikat ternyata menjadi bagian negara yang ikut memberi kecaman dan tekanan dunia terhadap aksi Agresi Militer Belanda Kedua. Amerika Serikat tidak senang atas ulah Belanda yang memanfaatka ratusan juta dolar yang diberikan melalui proyek Marshall Plan sebagai biaya perang menghadapi Indonesia. Selain itu, Amerika Serikat telah menaruh kepercayaan dan dukungan perjuangan bangsa Indonesia setelah berhasil menumpas pemberontakan PKl di Madiun pada akhir tahun 1948. Adanya tekanan politis dan keuangan dar Amerika Serikat telah mengakibatkan Belanda harus berpikir dua kali apabila ingin melanjutkan pendudukannya di Indonesia.

3. Mundurnya Dua Tokoh Penting Belanda

Mr. A.M.J.A. Sassen, Menteri Seberang Lautan Belanda, amat kecewa terhadap sikap Amerika Serikat yang tidak mendukung kebijakan politik Belanda di Indonesia. la berusaha memeras Amerika Serikat dengan pernyataan, apabila Belanda secara mendadak melepaskan Indonesia, maka kekacauan akan dimanfaatkan kaum komunis. Sassen ingin memaksa Amerika Serikat bersikap agar mengikuti kebijakan politiknya. Akan tetapi, pemerintah Belanda sendiri menolak politik pemerasan itu, sehingga Sassen minta berhenti dari jabatannya. Tiga bulan kemudian, Mei 1949, Dr. Bell yang merekayasa Agresi Militer Belanda ikut meletakkan jabatan.

4. Angkatan Perang Belanda Menuju Ambang Kekalahan

Strategi gerilya yang dijalankan tentara Republik bersama rakyat Indonesia ternyata cukup efektif untuk memaksa Belanda keluar dari Indonesia. Serdadu-serdadu Belanda terpaksa banting tulang untuk mempertahankan pos-pos yang didudukinya. Dalam perkembangannya, tentara Republik berubah menjadi suatu angkatan bersenjata yang terorganisasi rapi, disiplin, dan taat terhadap komando yang digariskan Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal A.H. Nasution. Kemenangan perang dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 telah membangun moral dan semangat juang bagi pasukan Republik, sehingga dapat mengalihkan strategi perang menjadi ofensif. Hal ini menjadi pertanda dekatnya ambang kekalahan angkatan perang Belanda.

5. Negara-negara Bagian Ciptaan Belanda Berubah Haluan

Serangan Umum 1 Maret 1949 ternyata memberi dampak politik terhadap negara-negara bagian ciptaan Belanda. Negara-negara tersebut menaruh kesan atas kemampuan militer Republik yang berhasil membuktikan bahwa TNI masih cukup kuat untuk dapat dikalahkan Belanda. Mereka pun terpengaruh sikap dunia internasional yang mengecam Belanda. OIeh karena itu, negara-negara bagian yang tergabung dalam BFO tersebut tidak bersedia mengikuti konferensi yang akan diadakan Belanda. Negara-negara bagian justru mau diajak berunding oleh pemerintah RI dalam Konferensi Inter Indonesia yang kemudian terselenggara pada 19 – 22 JuIi 1949 di Jogjakarta dan 31 Juli – 2 Agustus 1949 di Jakarta. Pertemuan itu menyiratkan dukungan dan sokongan negara-negara bagian terhadap tuntutan pemerintah RI atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan politik dan ekonomi.

6. Penandatanganan Kedaulatan RIS pada 27 Desember 1949

Pada 27 Desember 1949 dilakukan upacara penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan RIS pada waktu yang bersamaan di Indonesia dan negeri Belanda. Di negeri Belanda, di ruang takhta Istana Kerajaan Belanda, Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Dress, dan ketua delegasi RIS, Dr. Moh. Hatta, bersama-sama membubuhkan tanda tangan di atas naskah pengakuan kedaulatan RIS. Di Jakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda, A.H.J. Lovink, bersama-sama pula membubuhkan tanda tangan penyerahan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan akhir perjuangan bersenjata dan diplomasi bangsa Indonesia untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini pun menjadi momentum kemerdekaan de jure negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *