Fungsi lobus parietal otak

Fungsi lobus parietal otak

Lobus parietal dapat dibagi menjadi dua daerah fungsional. Yang satu melibatkan sensasi dan persepsi dan yang lainnya berkaitan dengan mengintegrasikan input sensorik, terutama dengan sistem visual. Fungsi pertama mengintegrasikan informasi sensorik untuk membentuk persepsi tunggal (kognisi). Fungsi kedua membangun sistem koordinat spasial untuk mewakili dunia di sekitar kita.

Individu dengan kerusakan pada lobus parietal sering menunjukkan defisit yang mencolok, seperti kelainan pada citra tubuh dan hubungan spasial. Beberapa area di lobus parietal memiliki fungsi spesifik.

  • Korteks somatosensorik primer, yang terletak di daerah postrolandik (girus postcentral) di lobus parietal anterior, mengintegrasikan rangsangan somestetik untuk mengenali dan mengingat kembali bentuk, tekstur, dan berat. Korteks somatosensorik primer di satu sisi menerima semua input somatosensori dari sisi kontralateral tubuh. Lesi lobus parietal anterior dapat menyebabkan kesulitan mengenali objek dengan sentuhan (astereognosis).
  • Area posterolateral ke gyrus postcentral menghasilkan hubungan visual-spasial dan mengintegrasikan persepsi ini dengan sensasi lain untuk menciptakan kesadaran lintasan objek bergerak. Area-area ini juga memediasi proprioception (kesadaran akan posisi bagian-bagian tubuh dalam ruang).
  • Bagian dari lobus midparietal hemisfer dominan terlibat dalam kemampuan seperti perhitungan, menulis, orientasi kiri-kanan, dan pengenalan jari. Lesi pada angular gyrus dapat menyebabkan defisit dalam menulis, menghitung, disorientasi kiri-kanan, dan penamaan jari (sindrom Gerstmann).
  • Lobus parietal yang tidak dominan mengintegrasikan sisi kontralateral tubuh dengan lingkungannya, memungkinkan orang untuk menyadari ruang lingkungan ini, dan penting untuk kemampuan seperti menggambar. Cedera akut pada lobus parietal yang tidak dominan dapat menyebabkan pengabaian sisi kontralateral (biasanya bagian kiri), yang mengakibatkan penurunan kesadaran akan bagian tubuh tersebut, lingkungannya, dan cedera yang terkait dengan sisi itu (anosognosia). Sebagai contoh, pasien dengan lesi parietal kanan besar mungkin menyangkal adanya kelumpuhan sisi kiri. Pasien dengan lesi yang lebih kecil mungkin kehilangan kemampuan untuk melakukan tugas motorik yang dipelajari (misalnya, berpakaian, kegiatan yang dipelajari dengan baik lainnya) – defisit spasial-manual yang disebut apraxia.

Lobus parietal memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Menafsirkan informasi sensorik dari seluruh tubuh
  • Menggabungkan tayangan bentuk, tekstur, dan berat ke dalam persepsi umum
  • Mempengaruhi keterampilan matematika dan pemahaman bahasa
  • Menyimpan memori spasial yang memungkinkan orang untuk mengarahkan diri mereka di ruang (tahu di mana mereka berada) dan untuk mempertahankan arah (tahu ke mana mereka pergi)
  • Memproses informasi yang membantu orang mengetahui posisi bagian tubuh mereka

Fungsi-fungsi tertentu cenderung lebih dikendalikan oleh salah satu lobus parietal (biasanya kiri). Ini dianggap sebagai lobus dominan. Lobus lain (tidak dominan) memiliki fungsi lain, seperti memungkinkan orang untuk menyadari bagaimana tubuh berhubungan dengan ruang di sekitarnya.

Kerusakan pada bagian depan lobus parietal di satu sisi menyebabkan mati rasa dan merusak sensasi pada sisi tubuh yang berlawanan. Orang yang terkena dampak kesulitan mengidentifikasi lokasi dan jenis sensasi (rasa sakit, panas, dingin, atau getaran). Orang mungkin mengalami kesulitan mengenali objek dengan sentuhan (yaitu, oleh tekstur dan bentuknya).

Jika bagian tengah rusak, orang tidak dapat membedakan sisi kanan dari kiri (disebut disorientasi kanan-kiri) dan memiliki masalah dengan perhitungan dan penulisan. Mereka mungkin memiliki masalah merasakan di mana bagian-bagian tubuh mereka (rasa yang disebut proprioception).

Jika lobus parietal yang tidak dominan (biasanya kanan) rusak, orang mungkin tidak dapat melakukan tugas-tugas keterampilan sederhana, seperti menyisir rambut atau berpakaian — disebut apraksia. Mereka juga mungkin mengalami kesulitan memahami bagaimana benda saling berhubungan di ruang. Akibatnya, mereka mungkin kesulitan menggambar dan membangun sesuatu, dan mereka mungkin tersesat di lingkungan mereka sendiri. Orang-orang ini juga dapat mengabaikan sifat serius gangguan mereka atau menolak keberadaannya. Mereka mungkin mengabaikan sisi tubuh yang berlawanan dengan kerusakan otak (biasanya sisi kiri).

Kerusakan lobus parietal

Kerusakan atau cedera pada lobus parietal dapat menyebabkan sejumlah kesulitan. Beberapa kesulitan yang berkaitan dengan bahasa termasuk ketidakmampuan untuk mengingat nama yang benar dari barang sehari-hari, ketidakmampuan untuk menulis atau mengeja, gangguan membaca, dan ketidakmampuan untuk memposisikan bibir atau lidah dengan benar untuk berbicara. Masalah lain yang mungkin timbul dari kerusakan lobus parietal termasuk kesulitan dalam melakukan tugas yang diarahkan pada tujuan, kesulitan dalam menggambar dan melakukan perhitungan matematika, kesulitan dalam mengidentifikasi objek dengan sentuhan atau membedakan antara berbagai jenis sentuhan, ketidakmampuan untuk membedakan kiri dari kanan, kekurangan koordinasi tangan-mata, kesulitan dalam arah pemahaman, kurangnya kesadaran tubuh, kesulitan dalam membuat gerakan yang tepat, ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas kompleks dalam urutan yang tepat, kesulitan dalam melokalisasi sentuhan dan defisit dalam perhatian.

Beberapa jenis masalah terkait dengan kerusakan yang disebabkan oleh belahan otak kiri atau kanan dari korteks serebral. Kerusakan pada lobus parietal kiri biasanya menghasilkan kesulitan dalam memahami bahasa dan tulisan. Kerusakan pada lobus parietal kanan menghasilkan kesulitan dalam memahami orientasi spasial dan navigasi.

Lobus Korteks Serebral

Korteks serebral adalah lapisan tipis jaringan yang menutupi otak. Serebrum adalah komponen terbesar otak dan dibagi menjadi dua belahan dengan masing-masing belahan dibagi menjadi empat lobus. Setiap lobus otak memiliki fungsi tertentu. Fungsi lobus korteks serebral melibatkan segala sesuatu mulai dari menafsirkan dan memproses informasi sensorik hingga pengambilan keputusan dan kemampuan memecahkan masalah. Selain lobus parietal, lobus otak terdiri dari lobus frontal, lobus temporal, dan lobus oksipital. Lobus frontal terlibat dalam penalaran dan ekspresi kepribadian. Lobus temporal membantu mengatur input sensorik dan pembentukan memori. Lobus oksipital terlibat dalam pemrosesan visual.

Loading...