4 Klasifikasi iklim menurut junghuhn

FW Junghuhn sepenuhnya menjelajahi geografi, geologi, dan botani Jawa. Dia menciptakan peta pertama seluruh Jawa yang dapat diandalkan dan peta-peta tertentu wilayah Jawa, termasuk Dataran Tinggi Dieng. Ia juga orang pertama yang memetakan wilayah Batak bagian selatan di Sumatera. Sebuah terobosan di bidang botani adalah keberhasilannya membudidayakan pohon kulit kayu Peru (produksi kina) di Jawa.

Tulisan Junghuhn termasuk yang terbaik dari literatur geografi dunia dan mempengaruhi banyak ilmuwan. Karya utamanya “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart” (1857) berisi berbagai macam informasi rinci yang luar biasa tentang alam Jawa.

Cuaca dan iklim adalah dua kondisi yang hampir sama tetapi artinya berbeda, terutama untuk periode waktu. Cuaca adalah bentuk awal yang dihubungkan dengan interpretasi dan pemahaman tentang kondisi fisik udara untuk sesaat di satu lokasi dan waktu, sedangkan iklim adalah kondisi yang berkelanjutan dan merupakan kumpulan kondisi cuaca dan kemudian disiapkan dan dihitung dalam kondisi cuaca rata-rata dalam periode waktu tertentu.

Menurut Rafi’i (1995) Ilmu cuaca atau meteorologi adalah ilmu yang mempelajari peristiwa cuaca dalam periode waktu dan ruang terbatas, sedangkan ilmu iklim atau klimatologi adalah ilmu yang juga mempelajari tentang fenomena cuaca tetapi sifat dan gejalanya. gejala-gejala ini memiliki sifat umum dan dalam area yang luas di atmosfer permukaan bumi.

Trewartha dan Horn (1995) mengatakan bahwa iklim adalah konsep abstrak, di mana iklim merupakan gabungan dari kondisi cuaca sehari-hari dan elemen atmosfer di wilayah tertentu dalam jangka panjang. Iklim bukan hanya cuaca rata-rata, karena tidak ada konsep iklim yang memadai tanpa apresiasi terhadap perubahan cuaca harian dan perubahan cuaca musiman dan suksesi episode cuaca yang disebabkan oleh gangguan atmosfer yang selalu berubah, bahkan dalam studi iklim diberikan penekanan pada nilai rata-rata, tetapi penyimpangan, variasi dan keadaan atau nilai ekstrem juga sangat penting.

Trenberth, Houghton dan Filho (1995) dalam Hidayati (2001) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan iklim yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh aktivitas manusia mengubah komposisi atmosfer yang akan meningkatkan variabilitas iklim yang diamati pada periode yang cukup panjang.

Menurut Effendy (2001), salah satu hasil dari penyimpangan iklim adalah terjadinya fenomena El-Nino dan La-Nina. Fenomena El-Nino akan menyebabkan penurunan jumlah curah hujan di bawah normal untuk beberapa daerah di Indonesia. Yang sebaliknya terjadi selama fenomena La-nina berlangsung.

Proses terjadinya cuaca dan iklim merupakan kombinasi dari variabel atmosfer yang sama yang disebut elemen iklim. Unsur iklim radiasi matahari ini, suhu, kelembaban, awan, curah hujan, penguapan, tekanan udara dan angin. Elemen-elemen ini bervariasi dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain karena pengontrol pengendali iklim.

Klasifikasi iklim menurut junghuhn
Klasifikasi iklim menurut junghuhn

Franz Wilhelm Junghuhn (lahir di Mansfeld (dekat Pegunungan Harz), 26 Oktober 1809 – meninggal di Lembang, 24 April 1864 pada umur 54 tahun) adalah seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman (lalu Belanda). Junghuhn seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda, mengadakan penelitian di Sumatra Selatan dan Dataran Tinggi Bandung. Berdasarkan hasil penelitiannya F. Junghuhn membagi iklim di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.

Klasifikasi Iklim Menurut Junghuhn

Iklim junghun dibagi menjadi 4 bagian menurut daerah ketinggian, yaitu:

1. Zona Iklim Panas

Ketinggian tempat antara 0 – 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat. Iklim panas ini tidak banyak tumbuhan yang bertahan hidup di lingkungan tersebut karena sering terjadinya kekeringan pada tanah sehingga hal ini membutuhkan udara dingin. Beberapa tanaman yang cocok kita tanam di wilayah iklim seperti ini misalnya padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa dan tanaman cokelat. Tanaman- tanaman ini biasanya kita temukan di wilayah pulau Sumatera, seperti Sumatera Selatan yang menjadi lokasi penelitian oleh Junghuhn.

Tanaman yang cocok disini seperti :

  • Tanaman padi
  • Tanaman jagung
  • Tanaman kopi
  • Tanaman tembakau
  • Tanaman tebu
  • Tanaman karet
  • Tanaman kelapa
  • Tanaman cokelat

Dari beberapa jenis tanaman- tanaman ini biasanya temukan di wilayah pulau Sumatera dan sulawesi.

2. Zona Iklim Sedang

Ketinggian tempat 600 – 1500 m dari permukaan laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran. Iklim zona sedang ini dirasakan lebih dingin daripada iklim yang sebelumnya sehingga banyak jenis tanaman yang cocok dan bertahan sehingga mampu di jadikan salah satu kebutuhan pokok pangan bagimasyarakat sekitar. Iklim ini dirasa lebih dingin daripada iklim yang sebelumnya, maka dari itulah jenis tanaman yang cocok ditanam di daerah inipun sudah berbeda dengan daerah sebelumnya, meskipun beberapa tanaman masih bisa hidup di wilayah ini. Adapun beberapa jenis tanaman yang cocok kita tanaman di wilayah yang memiliki iklim sedang antara lain adalah padi, tembakau, the, kopi, cokelat, kina dan seyur- sayuran seperti kol, sawi, selada dan lainnya.

Jenis tanaman yang cocok disini yaitu:

  • Tanaman padi
  • Tanaman tembakau
  • Tanaman the
  • Tanaman kopi
  • Tanaman cokelat

Jenis sayuran seperti :

  • Sayuran kol
  • Sayuran sawi,
  • Sayuran selada

3. Zona Iklim Sejuk

Ketinggian tempat 1500 – 2500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran. Di tempat ini ada beberapa tanaman yang masih dapat hidup dari zona iklim sedang tadi seperti the, kopi, kina dan juga sayur- sayuran. Tanaman- tanaman ini dapat kita jumah di wilyaah Dataran tinggi Bandung.

Tanaman disini seperti:

  • Tanaman teh
  • Tanaman kopi
  • Tanaman kina
  • berbagi jenis sayuran

4. Zona Iklim Dingin

Ketinggian tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya kecuali sejenis lumut. Di wilayah iklim dingin ini tidak akan kita temukan tanaman budidaya. Tanaman yang dapat hidup di iklim dingin ini misalnya adalah lumut.

Baca Juga

© 2022 Sridianti.com