Karya Sastra Masa Penjajahan Hindia Belanda

Karya sastra itu sebetulnya merupakan cerita masyarakat tentang kehidupannya pada sebuah waktu. Oleh karena itu, beragam pemikiran dan kebudayaan yang ada pada saat itu bisa dibaca dari karya sastranya. Warna dan corak karya sastra banyak dipengaruhi oleh dinamika kehidupannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan paham-paham yang ada di masyarakat itu mempercepat perkembangan kesusastraan. Demikian pula dengan karya sastra Indonesia. Interaksinya dengan bangsa Barat mampu membuat perkembangan kesusastraan Indonesia semakin lengkap dan beragam.

Karya sastra yang dianggap khas Indonesia antara lain berupa mite, legenda, dan hikayat. Ketiga bentuk karya sastra itu telah berkembang di berbagai daerah dari waktu ke waktu jauh sebelum kedatangan bangsa Barat. Coba buka kembali ingatanmu tentang pembelajaran sebelumnya mengenai kesusastraan Hindu-Buddha dan Islam. Nah, setelah berinteraksi dengan kebudayaan Barat, kita kemudian mengenal bentuk-bentuk prosa baru seperti roman dan novel.

Pada masa penjajahan dikenal adanya sastra Hindia yaitu beragam bentuk prosa dan puisi dengan tema keindonesiaan tetapi ditulis dalam bahasa Belanda. Bentuk karya sastra pada masa itu antara lain kisah perjalanan, kenangan, novel, dan riwayat hidup.

Ada beberapa sastrawan Belanda yang terkenal seperti Nicolaus de Graff yang menulis kehidupan di atas kapal yang melayari Nusantara dan Rijklof van Goens (duta besar VOC tahun 1648 dan 1654) yang melaporkan kehidupan Kerajaan Mataram. Sementara itu, Francois Valentijn menulis delapan jilid buku Oud en Nieuw Oost-Indien atau Hindia Timur Dulu dan Kini tahun 1724 dan 1726.

Karya sastra berupa novel Belanda terbit pertama tahun 1617 dengan menggunakan bahasa Melayu dan beraksara Latin. Semula ditulis secara bersambung di surat kabar berbahasa Belanda di kota-kota besar di Jawa. Namun, setelah VOC mendirikan percetakan sendiri, sastra dalam bentuk novel berkembang dengan cepat. Mulai abad XX novel sudah memiliki pembaca tetap terutama dari kalangan perempuan yang ada di perkotaan. Pada tahun 1930 jumlah penduduk Indonesia yang sudah bisa membaca dalam bahasa Belanda ada 180.000 orang.

Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia berkembang pula karya sastra yang berisi protes sosial. Kamu tentu ingat dengan nama E.F.E. Douwes Dekker. Dialah yang menulis novel Max Havelaar yang ditulis tahun 1860 di Belanda. Sastra ini mengkritik kebijakan kolonial yang diterapkan kepada penduduk Bumiputra. Karya sastra serupa antara lain Kraspoekoel atau Pukulan Keras, yaitu sebuah naskah drama karya Willem van Hogendrop.

Karya ini mengutuk perlakuan keras terhadap para budak di Hindia Belanda. Novel-novel lain adalah Tropic Fever, Rubber, dan Coolie (tentang kehidupan perkebunan di pantai timur Sumatra), Indische huwelijken (Pernikahan Hindia), Een huwelijk Indie (Pernikahan di Hindia), Hoe hij raad van Indie werd (Bagaimana Ia menjadi Penasihat Hindia), Uit de suiker in de tabak (Dari Gula ke Tembakau).

Selain karya sastra di atas, masih banyak karya sastra yang yang terbit pada masa Hindia Belanda. Misalnya karya sastrawan dan penulis Indonesia yang ditulis dengan menggunakan bahasa Belanda seperti autobiografi P.A.A. Djajadiningrat dan novel Buiten het gareel (Di Luar Jalur) karya Suwarsih Djojopoespito. Atau karya-karya Edgar Du Perron dan Tjali Robinson yang berjudul Piekerans van een straarslijper (Pikiran Seorang Gelandangan).

Paham Baru dalam Sastra Indonesia Seiring dengan masuknya kesusastraan Barat (Belanda) ke Indonesia, maka banyak aliran-aliran kesusastraan yang memengaruhi perkembangan kesusastraan di Indonesia. Banyak penulis roman yang terpengaruh oleh penulis-penulis Belanda. Mereka banyak menyadur dan menerjemahkan karya sastra roman dari Prancis melalui terjemahan-terjemahan bahasa Belanda.

Istilah roman sendiri memang berasal dari Prancis yaitu sebuah bentuk karangan dalam bahasa Roman atau bahasa sehari-hari di negeri itu. Tidak lama kemudian, artinya berubah menjadi sebuah cerita, hikayat atau kisah tentang pengalaman para kesatria. Setelah tahun 1400-an berkembang roman bucolik yaitu roman pedesaan, terutama cerita gembala dan roman jenaka. Mulai tahun 1605 terbit karangan prosa yang berisi nilai-nilai kemanusiaan. Sedangkan roman percintaan mulai berkembang abad XVIII.

Pada abad XIX terjadi perubahan besar di masyarakat Eropa. Kemajuan perkembangan pikiran dan paham manusia makin memuncak. Roman pun mulai terpengaruh adanya beragam ideologi besar seperti nasionalisme, Marxisme, kapitalisme, individualisme dan lain-lain. Di dalam bidang seni muncul slogan l’art pour l’art atau seni untuk seni dan terpencil dari kehidupan masyarakat.

Dasar-dasar masyarakat Barat adalah individualisme dan materialisme. Salah satu penyebabnya adalah mereka harus menaklukkan alam, mempertahankan dan mempergunakan kekuatan, menyempurnakan akal dan mementingkan keselamatan tubuh dan jasmani. Paham-paham inilah yang mendasari perkembangan kebudayaan Barat. Selanjutnya mulai abad XX, paham-paham tersebut masuk dan memengaruhi kebudayaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *