Klasifikasi Mollusca

Berdasarkan bentuk tubuh, tipe kaki dan cangkangnya, filum Mollusca dibagi beberapa kelas, antara lain Polyplacophora, Pelecypoda, Gastropoda, Scaphopoda, dan Cephalopoda.

Terdapat sekitar 100.000 spesies Mollusca yang teridentifikasi. Berdasarkan bentuk tubuh, tipe kaki dan cangkangnya, filum Mollusca dibagi menjadi beberapa kelas, antara lain Polyplacophora, Pelecypoda (Lamellibranchiata, Bivalvia), Gastropoda, Scaphopoda, dan Cephalopoda.

a. Polyplacophora

Polyplacophora dikenal dengan nama chiton. Tubuh berukuran panjang 3 mm – 40 cm, berbentuk lonjong, pipih dorsoventral, berwarna gelap, memiliki 8 keping cangkang pipih yang tersusun seperti genting. Polyplacophora tidak memiliki mata dan tentakel, namun memiliki radula yang besar, kaki lebar, dan datar, serta 6 – 88 pasang insang. Alat ekskresi berupa sepasang nefridium yang besar.

Alat indra berupa organ subradula aesthetes yang dapat dijulurkan untuk mendeteksi adanya makanan. Alat reproduksi bersifat gonokoris dan pembuahan terjadi di dalam tubuh atau di luar tubuh induk. Telur disimpan di dalam rongga mantel. Telur menetas menjadi larva trokofor yang berenang bebas, kemudian turun ke substrat dan mengalami metamorfosis menjadi anak chiton. Terdapat sekitar 800 spesies chiton yang teridentifikasi, antara lain Chiton sp., Chaetopleura, dan Lepidopleurus.

b. Pelecypoda (Lamellibranchiata, Bivalvia)

Pelecypoda dikenal sebagai kerang, remis, tiram, kijing, atau scallop. Pelecypoda disebut juga Lamellibranchiata (Latin, lamella = lembaran, branchia = insang). Pelecypoda hidup bebas, komensalisme, atau parasit di laut pada daerah pasang surut dan di perairan air tawar.

Pelecypoda tidak memiliki kepala. Tubuh Pelecypoda berbentuk pipih secara lateral dan ditutupi oleh sepasang cangkang. Puncak cangkang disebut umbo. Garis-garis melingkar di sekitar umbo menunjukan garis pertumbuhan cangkang. Tubuh Pelecypoda ada yang berukuran kecil 2 mm, ada pula yang berukuran besar hingga lebih dari 1 m, misalnya Tridacna (kerang raksasa).

Pelecypoda

Struktur anatomi Pelecypoda:

a. Mulut & esofagus

b. Lambung

c. Kelenjar pencernaan

d. Usus

e. Anus

f. Ginjal

g. Jantung

h. Aorta/arteri

i. Insang berlapis-lapis (Lamellibrachiata)

j. Ganglia serebral

k. Kaki pipih (anterior)

l. Mantel

m. Otot aduktor, sebagai otot pengatur sistem buka-tutup engsel yang dimiliki Pelecypoda.

n. Sifon inkuren (ventral)

o. Sifon ekskuren (dorsal)

p. Umbo dan ligamen sendi

Cephalopoda, yaitu Mollusca yang kakinya berada di kepala.

Cangkang Pelecypoda tersusun dari tiga lapisan, yaitu periostrakum (paling luar), prismatik (lapisan kapur di bagian tengah), dan nakreas (lapisan mutiara). Di bawah cangkang terdapat mantel berbentuk jaringan tipis dan lebar yang menutup seluruh tubuhnya. Di antara epitel mantel dan permukaan cangkang bagian dalam (nakreas) terdapat rongga berisi cairan ekstrapalial. Bila benda asing masuk ke rongga berisi cairan ekstrapalial, benda tersebut akan dilingkupi oleh cairan yang lama-kelamaan mengendap menjadi lapisan-lapisan mutiara.

Makanan bersama air masuk melalui sifon air masuk (sifon inhalan). Air yang telah disaring oleh lembaran insang akan keluar melalui sifon air keluar (sifon ekshalan). Sisa makanan dibawa ke usus, ke rektum, kemudian dikeluarkan melalui sifon ekshalan.

Pelecypoda memiliki peredaran darah terbuka. Alat indra terdapat di tepi mantel berupa tentakel pada sifon inhalan dan ekshalan, sepasang statosista pada kakinya, oseli di sepanjang tepi mantel untuk mendeteksi cahaya, dan osfradium di dalam sifon ekshalan.

Pelecypoda bereproduksi secara generatif, dengan gonokoris atau hermafrodit. Gamet dikeluarkan melalui sifon ekshalan. Pembuahan terjadi secara eksternal (di air) menghasilkan larva trokofor yang kemudian bermetamorfosis menjadi kerang muda.

Terdapat sekitar 20.000 spesies Pelecypoda, antara lain kerang mutiara (Pinctada margaritzfera), kerang air tawar (Anodonta), pengebor kayu, dikenal sebagai cacing kapal (Teredo), dan pengebor batu karang laut (Lithophaga).

c. Gastropoda

Gastropoda (Latin, gaster = perut, podos = kaki) adalah Mollusca yang berjalan dengan menggunakan perutnya, dan dikenal sebagai siput atau keong. Gastropoda hidup bebas di berbagai habitat (darat, perairan tawar dan laut) sebagai karnivor atau herbivor. Gastropoda herbivor memakan ganggang, rumput laut, tumbuhan air yang lunak atau yang membusuk. Gastropoda karnivor memakan cacing, ikan, atau kerang. Ada pula Gastropoda yang hidup endoparasit, misalnya Entoconcha yang hidup di dalam tubuh timun laut dan Stilifer yang hidup pada dinding tubuh bintang laut. Gastropoda yang hidup sebagai ektoparasit, misalnya Brachystoma yang mengisap darah kerang atau cacing Polychaeta. Pada umumnya Gastropoda memiliki cangkang berbentuk kerucut atau tabung yang melingkar seperti konde (gelung). Cangkang terdiri atas empat lapisan, yaitu periostrakum (lapisan terluar, berpigmen, mengandung zat tanduk conchiolin), prismatik (lapisan kalsium karbonat terluar, mengandung kalsit), lamela (lapisan kalsium karbonat tengah, mengandung aragonit), dan nakre (lapisan kalsium karbonat terdalam, berupa lembaran aragonit). gastropoda

Struktur anatomi Gastropoda dan Mollusca pada umumnya:

a. Mata

b. Tentakel panjang, sebagai alat peraba dan penglihatan.

c. Mulut/radula (gigi parut)

d. Faring & esofagus

e. Tembolok

f. Lambung

g. Kelenjar pencernaan

h. Usus

i. Anus

j. Ganglia serebral

k. Saraf tali

l. Jantung

m. Insang/paru-paru

n. Nefridium

o. Mantel

r. Ovotestis

s. Saluran hemafrodit

t. Kelenjar albumin

u. Reseptakel seminalis

v. Oviduk & vas deferens

w. Vagina

x. Penis

y. Reseptakel seminalis

z. Lubang genital

 

Kaki Gastropoda memiliki telapak yang datar dengan silia dan berbagai sel kelenjar yang menghasilkan lendir Gastropoda bernapas dengan insang sejati, insang sekunder, permukaan tubuh, atau paru-paru. Sistem pencernaan makanan lengkap. Pada radula terdapat gigi-gigi. Sistem peredaran darah terbuka dan jantung terdapat di dalam perikardium. Gastropoda memiliki sepasang ganglion otak dan benang saraf. Alat indra berupa mata (untuk mendeteksi cahaya) yang terdapat di pangkal tentakel, sepasang atau dua pasang tentakel (sebagai alat peraba), osfradium sebagai kemoreseptor pada rongga mantel, dan statosista pada kaki. Alat ekskresi berupa sepasang protonefridium.

Gastropoda bereproduksi secara generatif. Pada umumnya gonokoris atau diesis, artinya alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berheda. Pembuahan terjadi secara eksternal atau internal. Telur dilindungi oleh semacam agar dan dikeluarkan secara berkelompok. Telur ada pula yang dilindungi albumin dan cangkang, serta dilekatkan pada substrat.

Terdapat sekitar 60.000 spesies Gastropoda, antara lain bekicot (Achatina), siput laut tanpa cangkang (Vaginula dan Chromodoris), dan siput air tawar (Lymnaea).

d. Scaphopoda

Scaphopoda disebut juga siput taring karena memiliki bentuk cangkang yang mirip gading gajah atau taring, berwarna putih atau kekuningan. Cangkang terbuka pada kedua ujungnya. Siput taring hidup membenamkan diri pada pasir atau lumpur di laut. Ukuran tubuh biasanya 3 – 6 cm. Ada pula Scaphopoda yang berukuran sekitar 4 mm, misalnya Cadulus mayori.

Pada kepala terdapat mulut dan kaptakula yang berbentuk filamen untuk menangkap makanan. Scaphopoda memiliki rahang dan radula pada rongga mulutnya, namun tidak memiliki mata maupun tentakel. Sistem saraf ganglion tidak berpusat. Scaphopoda tidak memiliki insang, oleh karena itu pertukaran udara terjadi pada permukaan mantel, Sistem peredaran darah berupa sistem sinus darah karena Scaphopoda tidak memiliki jantung. Alat ekskresi, berupa sepasang nefridium.

Reproduksi Scaphopoda terjadi secara generatif dan gonokoris. Pembuahan terjadi secara eksternal, menghasilkan larva trokofor yang berenang bebas, yang kemudian menjadi larva veliger dan bermetamorfosis hingga menjadi anak Scaphopoda. Terdapat sekitar 350 spesies Scaphopoda, antara lain Dentalium dan Cadulus mayori.

e. Cephalopoda

Cephalopoda (Yunani, kephale = kepala, podos = kaki) adalah Mollusca yang kakinya berada di kepala, dan dikenal sebagai cumi-cumi dan gurita. Semua Cephalopoda hidup di laut. Ukuran tubuh bervariasi, dan beberapa sentimeter hingga cumi-cumi raksasa berukuran panjang 20 m dan diameter 4 m. Cephalopoda tidak memiliki cangkang luar, kecuali Nautilus. Cangkang dalam tersusun dari zat tanduk, bersifat ringan dan transparan, yang disebut pen.

Cephalopoda

Struktur anatomi Cephalopoda:

a. Tentakel pendek, untuk bergerak.

b. Tentakel panjang, untuk menangkap mangsa.

c. Sucker

d. Mata

e. Rahang

f. Mulut radula

g. Faring & esofagus

h. Lambung

i. Usus

j. Pen, sebagai penyokong tubuh.

k. Mantel

l. Jantung insang

m. Insang

n. Rongga mantel

o. Kantung tinta, merupakan tempat tinta yang tintanya digunakan ketika diserang musuh untuk mengelabuinya dengan menyemprotkan tinta menuju sifon.

p. Sifon

q. Gonad

Semua Cephalopoda merupakan hewan perenang yang memiliki gaya dorong jet untuk memburu mangsanya. Pada umumnya Cephalopoda bergerak mundur, pergerakan mundur lebih cepat daripada pergerakan maju. Pergerakan terjadi dengan cara menarik (mengisap) air ke dalam rongga mantelnya, kemudian menyemburkan airnya keluar melalui corong (sifon atau funnel). Cephalopoda memiliki penglihatan yang tajam untuk mencari mangsa. Jumlah tangan maupun tentakel bervariasi. Nautilus memiliki 90 buah tentakel, cumi-cumi 10 buah (empat pasang tentakel dan satu pasang tangan), dan Octopus memiliki 8 tangan yang sama panjangnya.

Sistem pencernaan Cephalopoda lengkap, mulai dan mulut, esofagus, lambung, sekum (usus buntu), usus, dan anus yang bermuara di rongga mantel. Cephalopoda memiliki dua macam kelenjar pencernaan, yaitu hati dan pankreas. Mulut dilengkapi oleh rahang dan radula.

Cephalopoda bernapas dengan insang atau dengan seluruh tubuhnya. Sistem peredaran darah tertutup atau darah mengalir di dalam pembuluh. Cephalopoda memiliki jantung dan darah yang mengandung hemosianin. Alat ekskresi berupa nefridium. Sistem saraf berupa beberapa pasang ganglia yang memusat membentuk otak yang dilindungi oleh kapsul tulang rawan dan mengelilingi esofagus. Mat indra berupa mata yang berkembang baik dan statosista sebagai alat keseimbangan.

Semua Cephalopoda, kecuali Nautilus, memiliki kantong tinta dengan saluran yang bermuara pada rektum dekat anus. Cairan tinta mengandung pigmen melanin, berwarna cokelat atau hitam. Dalam keadaan bahaya, tinta dikeluarkan melalui anus dan keluar tubuh melalui corong (sifon), sehingga air di sekitarnya menjadi gelap. Kulit Cephalopoda mengandung kromatofor

berwarna kuning, jingga, merah, biru, dan hitam. Sepia officinalis mampu mengubah warna tubuh menyesuaikan dengan warna lingkungan, seperti pada bunglon. Loligo vulgaris dalam keadaan tenang berwarna pucat, tetapi bila terganggu berubah menjadi gelap.

Cephalopoda bereproduksi secara generatif dan gonokoris. Sperma terbungkus oleh kapsul yang disebut spermatofor. Telur mengandung banyak kuning telur berukuran 20 mm dengan jumlah yang bervariasi, antara 100 – 1.500 butir. Terdapat sekitar 650 spesies Cephalopoda, antara lain Nautilus pompilius, sotong (Sepia officinalis), cumi-cumi (Loligo), dan Octopus.

Loading...

Artikel terkait lainnya