5 Langkah dalam Penelitian Sejarah

Mengapa dalam sejarah ada penelitian? Apakah tujuan dilakukannya penelitian? Bagaimanakah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelitian sejarah? Dalam sejarah ada penelitian karena sejarah merupakan suatu ilmu. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mencari kebenaran.

Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran menurut ukuran ilmu pengetahuan. Ciri umum dari kebenaran ilmu pengetahuan yaitu bersifat rasional, empiris, dan sementara. Rasional artinya kebenaran itu ukurannya akal. Sesuatu dianggap benar menurut ilmu apabila masuk akal. Sebagai contoh dalam sejarah kita menemukan adanya bangunan Candi Borobudur yang sangat menakjubkan. Sejarah sebagai ilmu memiliki metode atau langkah-langkah dalam penelitiannya. Langkah-langkah dalam penelitian sejarah yaitu sebagai berikut.

1.    Pemilihan topik

Sebelum melakukan penelitian sejarah, langkah pertama yang harus dilakukan ialah menetapkan topik yang akan diteliti. Topik yang diteliti haruslah merupakan topik yang layak untuk dijadikan penelitian dan bukan merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian sebelumnya.

Pemilihan topik ini penting agar penelitian sejarah lebih terarah dan terfokus pada masalah yang akan diteliti. Untuk mengarahkan masalah yang akan diteliti dalam topik tersebut, sebaiknya kita ajukan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi masalah yang akan diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi sebagai berikut ini.

Pertama apa (what) yang akan kita teliti, apakah kita akan meneliti aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, keluarga, militer, dan lain-lain. Pertanyaan tentang apa, lebih melihat pada aspek-aspek yang akan kita teliti.

Kedua, yaitu siapa (who) yang akan diteliti. Dalam menulis sejarah desa misalnya, kita harus menetapkan siapa-siapa saja yang akan kita teliti, atau kelompok-kelompok sosial mana yang akan diteliti, apakah para tokohnya, masyarakat petani, masyarakat pengrajin, aparat desanya, kaum wanitanya, dan lain-lain.

Ketiga, pertanyaan yang diajukan yaitu di mana (where) yang akan kita teliti. Pertanyaan ini merupakan aspek spasial atau keruangan yang menjadi ciri dari disiplin ilmu sejarah. Spasial dapat berupa tempat atau geografis yang akan diteliti. Apakah kita akan meneliti kota atau desa, atau wilayah yang bersifat administratif seperti desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara. Kalau kita meneliti geografis desa, maka harus jelas batasan geografis desa yang kita teliti.

Keempat, yang diajukan adalah kapan (when). Maksud dari pertanyaan ini adalah menyangkut aspek batasan waktu atau periodisasi yang akan dijadikan objek penelitiannya. Salah satu ciri penting dari ilmu sejarah adalah adanya konteks waktu. Misalnya perubahan sosial desa 1950-1955. Penetapan angka tahun ini harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang bersifat akademis, misalnya karena pada tahun tersebut merupakan awal dari perubahan sampai dengan tahun menurunnya perubahan-perubahan penting.

Fungsi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk mengarahkan ketika kita mencari sumber-sumber yang akan dijadikan data penelitian.

2.    Pengumpulan sumber

Setelah menetapkan topik penelitian, langkah berikutnya adalah pengumpulan sumber atau istilah lainnya disebut dengan heuristik. Sumber yang kita cari adalah sumber yang berkaitan dengan topik yang telah kita tetapkan. Ke manakah kita harus mencari sumber? Banyak sekali tempat yang dapat kita jadikan sebagai tempat sumber sejarah. Tempat yang kita jadikan sebagai pencarian sumber sejarah tergantung pada jenis sumber yang kita butuhkan. Kalau kita membutuhkan sumber tertulis, dapat kita peroleh di perpustakaan-perpustakaan, kantor arsip, kantor-kantor pemerintah, dan tempat-tempat lainnya. Lokasi yang kita jadikan penelitian pun dapat dijadikan tempat pencarian sumber. Di tempat ini kita dapat menemukan sumber-sumber yang berbentuk benda atau artefak, seperti bentuk geografis daerah, atau mungkin saja kita menemukan benda-benda peninggalan sejarah. Selain sumber-sumber benda, di lokasi penelitian kita dapat pula menemukan orang-orang yang masih hidup dan menjadi saksi dari peristiwa sejarah yang kita teliti.

3.    Kritik sumber

Penelitian sejarah sebagaimana telah dikatakan merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang peneliti untuk mencari kebenaran. Dalam penelitian sejarah, seorang peneliti berusaha menduga dan membuktikan kebenaran tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Untuk membuktikan kebenaran tersebut, maka harus berdasar pada sumber sejarah. Akan tetapi, sumber sejarah yang digunakan pun harus sumber yang memang benar-benar bukti yang sesuai dengan apa yang terjadi pada masa lalu. Dengan demikian, sumber sejarah pun harus memiliki kebenarannya. Untuk menguji kebenaran sumber sejarah tersebut, maka dilakukanlah kritik sumber.

4.    Interpretasi

Interpretasi artinya penafsiran. Penafsiran dilakukan terhadap sumber-sumber yang ditemukan. Dalam melakukan penafsiran, peneliti sejarah melakukan analisis sesuai dengan fokus penelitiannya. Kajian sejarah yang bersifat ilmiah, dalam penafsiran biasanya menggunakan teori-teori dari ilmu-ilmu sosial. Dengan cara seperti ini, diharapkan penulisan sejarah akan lebih objektif dalam batas keilmiahannya. Walau demikian, penafsiran dalam sejarah tidak bisa terlepas sama sekali dari unsur subjektivitas penulisnya. Subjektivitas terjadi disebabkan penulis sejarah memiliki pandangan tersendiri terhadap sumber yang ia temukan. Bahkan data yang sama tidak menutup kemungkinan menimbulkan interpretasi yang berbeda. Apabila hal ini terjadi, dalam penelitian sejarah sah-sah saja dan dibenarkan, asalkan peneliti menggunakan sumber yang valid.

5.    Historiografi

Historiografi secara harfiah berarti penulisan sejarah. Langkah ini merupakan langkah terakhir dalam penelitian sejarah. Dalam langkah ini dapat dilihat bagaimana peneliti sejarah mengkomunikasikan hasil penelitiannya kepada orang lain atau dalam bentuk apa tulisannya dibaca untuk umum. Menulis sejarah dalam bentuk historiografi pada dasarnya merupakan bentuk rekonstruksi sejarawan atau peneliti sejarah terhadap sumber-sumber yang telah ia temukan dan telah diseleksi dalam bentuk kritik. Historiografi ibarat membuat suatu bangunan. Dalam membuat suatu bangunan, seorang ahli bangunan mencoba memasang bahan-bahan yang telah disediakan. Dia memasang kayu untuk kusen, pintu, jendela; semen, pasir, dan batu bata untuk dinding; cat untuk mencat dinding. Apabila kita perhatikan bahan-bahan tersebut dalam keadaan masih tersimpan secara terpisah-pisah atau belum digunakan, maka kesan yang akan timbul dalam diri kita ialah menjadi tidak menarik. Akan tetapi, apabila bahan-bahan itu kita coba susun akan menjadi suatu bangunan yang indah. Hal tersebut sama pula halnya dalam merekonstruksi sumber-sumber sejarah. Ketika sumber-sumber sejarah masih dalam bentuk yang terpisah-pisah belum dikonstruksi, maka itu akan menjadi barang yang mati. Akan tetapi, ketika sumber-sumber sejarah itu kita rekonstruksi, akan menjadi suatu bangunan tulisan atau karya tulis yang hidup. Karya ini menjadi suatu cerita yang menarik dan enak dibaca. Sebagai contoh kita menemukan catatan rapat desa, laporan jumlah penduduk desa beserta pendapatannya, jumlah luas tanah, jumlah orang-orang desa yang bersekolah, catatan transaksi jual beli hasil pertanian antara petani dengan pedagang dari kota, laporan program pengembangan pertanian di desa, dan sumber-sumber lainnya. Kalau sumber-sumber itu masih terserak-serak, belum direkonstruksi, belum bisa bercerita apa-apa akan barang-barang yang mati.

Apabila kita perhatikan, langkah-langkah penelitian sejarah sepertinya harus melakukan tahapan-tahapan yang sifatnya berjenjang. Artinya, kita harus mendahulukan nomor yang awal, baru kemudian nomor langkah berikutnya. Misalnya kita harus melakukan dulu kritik, baru memberikan interpretasi. Dalam prakteknya, sesungguhnya tahapan-tahapan penelitian sejarah tidaklah kaku. Artinya, kita tidak seharusnya mengikuti tahapan-tahapan awal baru berikutnya. Kita dapat melakukan tahapan tersebut secara bersamaan, misalnya ketika kita sedang melakukan kritik sesungguhnya kita pun sudah melakukan interpretasi. Karena pada saat itu, kita sudah bisa menentukan mana sumber sejarah yang cocok dengan topik penelitian. Begitu pula ketika kita sedang melakukan interpretasi, kita sendiri sudah melakukan penulisan. Sebab, ketika kita melakukan penulisan, pada dasarnya kita pun sedang memberikan penafsiran terhadap sumber-sumber sejarah yang digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *