Apakah Ada Alasan untuk Mendukung Bahwa Musuh Adalah Diri Kita Sendiri?

Ada satu pepatah yang sering terjadi dalam kehidupan kita, yaitu, “Gajah di kelopak mata tidak terlihat, kuman di seberang lautan muncul”. Pepatah ini berarti bahwa kebenaran yang dilakukan oleh seseorang tidak dibicarakan oleh kita tetapi kita membuat kesalahan yang sangat kecil. Pepatah ini menunjukkan bahwa kita sering fokus pada orang lain, bahkan kesalahan yang dilakukan orang lain pun sering dipertanyakan.

Kita juga sering beranggapan bahwa orang lain adalah penyebab kegagalan yang kita hadapi saat ini, padahal itu belum tentu benar. Bisa jadi, kita adalah penyebab utama dari semua kegagalan yang ada. Menurut situs Marc and Angel, ada 5 alasan yang membuktikan bahwa kita adalah musuh terbesar kita.

1. Keyakinan Lemah adalah Musuh yang Berbahaya.

Kita mungkin merasa kesal ketika orang-orang di sekitar kita tidak mempercayai kita dengan pekerjaan atau kesempatan untuk bekerja. Dengan cepat, kita akan berpikir bahwa mereka tidak suka jika kita berhasil atau mereka tidak mau berbagi kesempatan emas dengan kita. Faktanya, mereka tidak menawarkan kesempatan emas kepada kita karena kita tidak menunjukkan keyakinan yang kuat di depan orang lain.

Disadari atau tidak, kita sering bertindak tidak percaya diri dan selalu memandang rendah diri sendiri. Jadi, jika kita selalu bersikap seperti itu, apakah orang lain akan percaya dengan kemampuan kita? Tentu saja tidak. Jika kita tidak memiliki harapan dalam diri kita, itu bukan karena tidak ada harapan, tetapi karena kita tidak percaya ada banyak harapan di sekitar kita.

Terkadang kita harus mencoba melakukan apa yang kita pikir tidak bisa dilakukan. Jadi, ketika kita berhasil melakukannya, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita BISA melakukannya dengan baik. Semua bentuk kesuksesan datang dari dalam diri sendiri, karena kesuksesan adalah sesuatu yang perlu diraih. Bukan sesuatu yang akan diberikan gratis oleh orang lain.

Ketika rekan pembaca merasa bingung karena tidak memiliki keyakinan yang kuat, maka orang pertama yang perlu ditekan oleh rekan pembaca adalah DIRI SENDIRI.

2. Harapan terus-menerus adalah musuh yang berbahaya.

Dalam hidup, hal-hal tidak bisa terus berlanjut. Perubahan akan selalu datang dan pergi, sehingga harapan yang kita miliki juga tidak bisa konstan, pasti akan berubah. Sebagai contoh, dulu mungkin kita akan berpikir bahwa bekerja sebagai pegawai pemerintah adalah pekerjaan kecil.

Namun, seiring perkembangan zaman, bisnis startup semakin marak. Kita akhirnya memutuskan untuk mendirikan bisnis startup kita sendiri dan menjadi pemimpin dari startup tersebut. Contoh ini menunjukkan bahwa kita mencoba mengubah harapan kita sesuai dengan keadaan. Namun, bagaimana jika kita masih berpikir bahwa kita harus bisa bekerja sebagai pegawai pemerintah, apa pun yang terjadi.

Ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan takdir berkata lain, kita akan merasa kecewa dengan kenyataan ini. Tidak hanya itu, kita juga akan kehilangan semangat hidup, kehilangan motivasi dan berhenti bergerak maju. Akibatnya, kita tidak bisa menjadi sukses hanya karena kita terhambat oleh harapan kita sendiri yang terus-menerus.

3. Obsesi yang berlebihan adalah musuh yang berbahaya.

Kita semua pasti memiliki obsesi, namun terkadang obsesi berlebihan yang kita miliki akan menjadi bumerang dengan sendirinya. Ketika kita tidak bisa memenuhi obsesi yang terlalu tinggi, kita cenderung mengindikasikannya sebagai sebuah kegagalan. Misalnya, saya memiliki tujuan mendapatkan lima klien baru bulan ini. Namun, pada akhir bulan saya hanya mendapatkan dua klien baru, sementara tiga klien lainnya menolak untuk bekerja sama dengan perusahaan saya.

Obsesi yang berlebihan membuat saya hanya fokus pada jumlah klien yang gagal saya dapatkan. Bahkan saya lupa bersyukur karena sudah ada dua klien yang akhirnya mau bekerja sama dengan perusahaan saya. Dengan kata lain, obsesi yang terlalu tinggi membuat saya melihat kegagalan di mana-mana, padahal yang saya anggap gagal belum tentu gagal total.

Memiliki tujuan hidup memang baik, tetapi ketika tujuan telah berubah menjadi obsesi yang berlebihan, obsesi tersebut akan berubah menjadi musuh yang berbahaya.

4. Terlalu Memaksa Kehendak adalah Musuh yang Berbahaya.

Memaksakan kemauan juga bisa menjadi musuh yang berbahaya bagi diri kita sendiri, bahkan bagi orang-orang di sekitar kita. Ketika banyak rekan kerja, klien, mitra bisnis atau pelanggan yang lari dari kita, kemungkinan besar penyebabnya berasal dari diri kita sendiri.

Ketika kita memaksakan segalanya berjalan sesuai keinginan kita, ini hanya akan membuat hidup kita semakin sulit. Apalagi jika hal ini membuat orang lain juga merasakan kesulitan, maka orang-orang di sekitar kita akan enggan untuk berinteraksi dengan kita. Hasil dari? Kita akan semakin kerepotan untuk mendapatkan berbagai peluang emas.

5. Terlalu lama berada di zona nyaman juga bisa menjadi musuh yang berbahaya.

Tanpa disadari, kita terlalu nyaman dengan semua yang kita miliki sekarang dan enggan melangkah keluar untuk mengembangkan diri. Kita tidak mau belajar lagi, karena kita merasa semua kemampuan kita sudah cukup. Kita tidak mau mendengarkan pelanggan, karena kita merasa layanan pelanggan yang diberikan sangat baik. Atau, kita tidak ingin memberikan inovasi baru, karena kita merasa telah menjadi yang terdepan. Kenyamanan yang berlebihan akan menghambat kesuksesan kita. Tidak ada yang bisa mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman itu, selain diri kita sendiri.