Peredaan Perang Dingin

Selama berlangsungnya Perang Dingin, kedua negara (Amerika Serikat dan Uni Soviet) tidak pernah bertemu dengan perang fisik (perang terbuka), tetapi kedua negara itu selalu berada di belakang negara-negara yang sedang bersengketa. Masing-masing negara adikuasa ini akan memberikan bantuan atau perlengkapan persenjataan kepada masing-masing negara yang sedang bertikai.

Perang Dingin di antara kedua negara adikuasa itu terus berlanjut. Keduanya selalu terlibat dalam pameran persenjataan-persenjataan mutakhir. Puncak dari perang dingin ini adalah dalam bentuk pemasangan rudaI-rudal, baik yang berjarak dekat, sedang, maupun jauh.

Perlucutan Senjata Nuklir

Pemasangan rudal-rudal yang berhulu ledak nuklir pada tempat-tempat yang strategis itu menimbulkan rasa cemas yang mendalam bagi bangsa bangsa di seluruh dunia. Setiap bangsa telah mengetahui bahaya yang diakibatkan oleh senjata nuklir. Senjata nuklir merupakan senjata pemusnah. Apabila perang nuklir sampai terjadi, dunia pun akan musnah, sehingga tidak akan ada negara yang menang maupun kalah dalam perang.

Menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh senjata nuklir maka kedua negara adikuasa berupaya untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu upaya yang dilaksanakan adalah mengadakan perjanjian untuk mengurangi, membatasi, atau memusnahkan senjata nuklir. Sebagai contoh, selama periode tahun 1968-1982, telah dilakukan perjanjian berikut.

  • Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau Non-Proliferation Treaty tahun 1968 antara Uni Soviet, USA, dan Inggris. Perjanjian ini berisi kesepakatan untuk tidak menjual senjata nuklir atau memberikan informasi kepada negara-negara non-nuklir.
  • Perjanjian Pembatasan Senjata-senjata Strategis atau Strategic Arms Limitation Talks (SALT I) tahun 1972, yang berisi kesepakatan untuk membatasi persediaan senjata-senjata nuklir strategis.
  • Perjanjian Pengurangan Senjata-senjata Strategis atau Strategic Arms Reduction Treaty (START) tahun a982 antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Perjanjian ini berisi kesepakatan untuk memusnahkan senjata nuklir yang berdaya jarak menengah.

Pengurangan dan pembatasan serta pemusnahan senjata-senjata yang berhulu ledak nuklir tersebut berpengaruh besar bagi perkembangan dunia. Rasa cemas dan was-was dari setiap bangsa di dunia mulai berkurang sehingga perang dingin pun secara perlahan mulai reda.

Perlucutan senjata nuklir, perkembangan dan perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet membuat dunia khawatir akan terjadinya perang nuklir. Untuk itu sekitar pertengahan tahun 1980-an dibuat perjanjian perlucutan senjata. Kedua belah pihak setuju untuk menonaktifkan sebagian besar cadangan senjata nuklirnya.

Di samping perjanjian-perjanjian di atas, beberapa negara juga telah mengadakan kesepakatan-kesepakatan yang menyangkut keamanan kawasan. Salah satu kesepakatan itu adalah Persetujuan Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (Sutheast Asia Nuclear Weapon Free Zone/SEANWEZ) yang ditandatangani di Bangkok bulan November 1995. Persetuan tersebut bertujuan menjamin keamanan Internasional, khususnya kawasan Asia Tenggara.

Upaya-upaya menjamin adanya keamanan internasional sudah dimulai sejak tahun 1968. Ketika itu Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi No.255 yang memuat seruan kepada negara-negara Nuklir (Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet) untuk membantu negara-negara nun-nuklir yang menjadi “korban suatu serangan nuklir”.

Keruntuhan Uni Soviet yang kemudian diikuti oleh berdirinya Persemakmuran Negara-negara Merdeka (Commonwealth of Independent States atau CIS) pada tahun 1991 besar pengaruhnya terhadap peredaan dan berakhirnya Perang Dingin. Keruntuhan Uni Soviet tersebut menjadi salah satu momentum berakhirnya Perang Dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *