Perkembangan Bahasa dan Sastra pada Masa Pendudukan Jepang

Perkembangan kebudayaan masyarakat di Nusantara pada masa pendudukan Jepang banyak diwarnai oleh dua kutub kepentingan. Di satu sisi Jepang berkeinginan untuk bisa memobilisasi rakyat demi kepentingan perangnya, di sisi yang lain perjuangan untuk meraih kemerdekaan telah sampai pada tingkat yang matang.

Kedatangan bala tentara Jepang memang sudah lama ditunggu oleh rakyat terutama masyarakat Jawa. Hal ini karena beredarnya ramalan Jayabaya yang menyebutkan bahwa kemerdekaan rakyat akan tercapai bila telah datang orang-orang yang bertubuh kerdil, berkulit kuning dari utara dan lamanya seumur jagung. Nuansa itulah yang mendominasi perkembangan kebudayaan pada masa Jepang.

Politik bahasa yang dikembangkan oleh pemerintah pendudukan Jepang dimulai dengan melarang segala pemakaian bahasa Belanda. Tujuannya adalah untuk menampilkan kesan negatif kebudayaan Barat di mata rakyat, sehingga rakyat antipati terhadap Belanda. Dampaknya adalah penggunaan bahasa Indonesia semakin luas di kalangan rakyat karena bahasa Jepang belum banyak diketahui rakyat. Hal ini tentu berlawanan dengan politik kolonial Belanda yang melarang segala yang berbau Indonesia.

Pada tanggal 20 Oktober 1943, Kantor Pengajaran Jepang di Jawa mendirikan sebuah komisi untuk mengembangkan bahasa Indonesia. Komisi ini selain didukung oleh tokoh-tokoh sastrawan juga terdiri atas politisi terkemuka seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan Ki Hajar Dewantoro. Komisi ini berhasil menentukan 7.000 istilah dan mengganti nama-nama kota peninggalan Belanda seperti Batavia menjadi Jakarta, Mr. Cornelis (Jatinegara), dan Buitenzorg (Bogor). Karya berupa sajak pada periode ini bisa dibaca dari karya Rosihan Anwar yang berjudul Kisah di Waktu Pagi berikut ini (H.B. Jassin, 1967: 155).

  • Seperti perjurit memeras daya
  • Pagi dan senja tiada beda
  • Senantiasa berjalan di lebuh raya
  • Bertujuan nyata hingga saatnya
  • Bangsa bersemayam di Puncak nan Jaya
  • Akupun ingin seperti mereka
  • Di lapang kerjaku berbaktikan daya
  • Guna kemenangan segala kita

Berkobarnya Perang Pasifik juga mengilhami sastrawan kita untuk membuat karya sastra. Misalnya roman Taufan di Atas Asia karya El Hakim. Karya sastra pada masa Jepang memiliki peran yang besar di dalam menggelorakan semangat bangsa untuk meraih kemerdekaan.

Loading…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *