Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa

Bermula dari masuk agama Islam di pulau Jawa ini membuat bermunculannya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Hal ini dapat di lihat dari perkembangan kerajaan Islam yang ada di pulau Jawa. Untuk lebih jelasnya mari kita simak uraian tentang perkembangan kerajaan Islam di Jawa.

Perkembangan Kerajaan Islam di Jawa

Agama Islam lahir di Tanah Arab oleh Nabi Muhammad saw. yang dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul awal 571 M (20 April 571 M). Beliau adalah putra dari Abdullah bin Abdul Mutholib dengan Aminah binti Wahab, dari suku bangsa Qura’isy. Pada tanggal 17 Ramadhan 610 M (6 Agustus 610 M) ketika Muhammad sedang menyendiri dalam Gua Hira, datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang pertama. Peristiwa itu dikenal sebagai Nuzulul Qur’an (turunnya wahyu Qur’an pertama) yang menjadi kitab suci agama Islam.

Nenek moyang kita memiliki kebudayaan yang tinggi. Pada zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia, telah dibuat berbagai bentuk bangunan. Pada masa Hindu–Buddha dibangun candi-candi, sedangkan pada masa Islam banyak dibangun masjid. Bangunan-bangunan tersebut dinamakan peninggalan sejarah.

Agama dan peradaban Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang Gujarat, Arab, dan Persia. Sambil berdagang, mereka membawa pengaruh dan menyebarkan ajaran Islam. Para pedagang muslim masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke-7. Dalam perkembangannya, pada abad ke-13 terbentuk masyarakat muslim di Indonesia. Penyebaran agama Islam di Indonesia melalui beberapa jalur. Di antaranya, jalur perdagangan, perkawinan, jalur pendidikan, serta jalur seni dan budaya.

Pada abad ke-14, Malaka menjadi pusat perdagangan dan pusat pengembangan Islam. Di Pulau Jawa, Islam berkembang dari kota-kota pelabuhan Banten, Cirebon, Demak, Tuban, dan Gresik hingga mengawali munculnya kerajaan- kerajaan Islam di Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, dan Banten

Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa

1. Kerajaan Demak

Kerajaan islam pertama di jawa, berdiri pada akhir abad ke-15. Letak kerajaan di bintoro dekat muara sungai demak. Pusat kerajaan terletak antara pelabuhan bergota dan jepara. Raja-raja yang memerintah di demak yaitu: raden patah sebagai pendiri dan raja pertama, pati unus, sultan trenggono, sunan prawoto. Demak berperan besar dalam penyebaran agama islam di jawa dan wilayah nusantara bagian timur. Oleh para wali, di demak didirikan masjid agung demak yang masih kokoh berdiri sampai sekarang. Dengan bantuan para wali demak diperluas hingga meliputi: jepara, pati, rembang, semarang; kepulauan si selat karimata dan beberapa daerah di kalimantan. Demak menguasai beberapa pelabuhan penting seperti jepara, tuban, sedayu, jaratan, dan gresik.

2. Kerajaan Pajang

Kerajaan panjang dibawah pemerintahan sultan hadiwijaya mengalami kemajuan, meski wilayahnya tidak seluas demak semasa diperintah sultan trenggono. Hal ini terjadi karena wilayah banten dan cirebon memisahkan diri, ketika di demak sedang kacau akibat perebutan kekuasaan. Sepeninggal sultan hadiwijaya, pajang diperintah oleh pangeran bewono putra sultan hadiwijaya (1575-1586). Pada saat pemerintahaan oleh pangeran bewono terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh arya pangiri, anak sunan prawoto. Berkat bantuan sutawijaya, anak Ki ageng pemanahan juga putra angkat sultan hadiwijaya, pemberontakan arya pangiri dapat dipadamkan. Pemerintahan pangeran bewono tidak berlangsung lama, karena diserahkan ke sutawijaya. Oleh sutawijaya kejaraan pajang dipindahkan ke mataram.

3. Kerajaan Mataram Islam

Akibat pemindahan pemerintahaan dari pajang ke mataram, berdirilah kerajaan mataram islam pada tahun 1586 dengan raja pertamanya sutawijaya yang bergelar penembahan senopati (1586-1601). Pada masa pemerintahan penembahan senopati, mataram banyak menerima cobaan. Pemberontakan-pemberontakan silih berganti, mulai dari bupati surabaya, ponorogo, mediun, galuh, pati, dan demak. Semenjak awal berdirinya mataram, penembahan senopati dapat melampaui masa-masa krisis ini dengan memadamkan pemberontakan demi pemberontakan. Penambahan senopati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di kotagede yogyakarta. Digantikan putranya yang bernama: Mas Jolang (1601-1613), raden mas rangsang (sultan agung) tahun 1613-1645. Mataram mencapai kejayaan pada masa sultan agung. Pengaruh mataram memudar setelah sultan agung meninggal pada tahun 1645 M. Selanjutnya, mataram pecah menjadi dua, sebagai mana isi perjanjian Giyanti (1745) berikut.

  1. Mataram timur yang dikenal kasunanan surakarta di bawah kekuasaan paku buwono III dengan pusat pemerintahan di surakarta.
  2. Mataram barat yang dikenal dengan kesultanan yogyakarata di bawah kekuasaan mangkubumi yang bergelar sultan hamengku buwono I dengan pusat pemerintahannya di yogyakarta.

Perkembangan berikutnya, kasunanan surakarta pecah menjadi dua yaitu kasunanan dan mangkunegaran (perjanjian salatiga).

4. Kerajaan Banten

Kerajaan banten didirikan oleh Faletehan. Posisi banten semakin penting setelah perdagangan di malaka dimonopoli dan dikuasai portugis. Perdagangan islam memindahkan pusat perdagangannya dari malaka ke aceh. Kemudian, dari aceh para pedagang ini melanjutkan pelayarannya melalui pantai barat sumatra ke banten.

Faletehan menyerahkan banten kepada putranya yang bernama sultan hasanuddin. Faletehan sendiri kemudian pergi ke cirebon mendirikan kerajaan disana.

Pada masa pemerintahan sultan hasanuddin ini banten berhasil meluaskan wilayahnya ke palembang, bengkulu, dan sumatra. Perluasan daerah ini disamping bertujuan politik dan ekonomi, juga bertujuan meluaskan penyebaran agama islam. Dengan demikian masa pemerintahan sultan hasanuddin tidak hanya membawa kemajuan dibidang politik dan ekonomi, tetapi juga dalam penyebaran islam.

Hasanuddin wasat pada tahun 1570. Penggantinya adalah sultan yusuf. Pada masa pemerintahan sultan yusuf berhasil menguasai kerajaan pajajaran (1579), dan raja pajajaran prabu sedah tewas dalam pertempuran ini. Dengan takluknya kerajaan pajajaran berarti runtuhlah kerajaan hindu di jawa barat.

Sultan yusuf wafat tahun 1570. Sultan yusuf digantikan oleh putranya yang baru berusia 9 tahun yaitu maulana muhammad (1580-1605). Pada masa pemerintahan maulana muhammad inilah belanda pertama kali mendarat di banten (indonesia) tahun 1596 di bawah pimpinan cornelis de houtman.

5. Kerajaan Cirebon

Kerajaan cirebon didiran oleh faletehan dan beliau menjadi rajanya yang pertama. Di samping sebagai seorang raja, faletehan juga seorang ulama, bahkan beliau sebagai salah seorang walisongo. Faletehan dikenal sebagai sunan gunung jati. Setelah faletehan menjadi raja di cirebon, perkembangan agama islam di daerah mengalami kemajuan sangat pesat.

Cirebon menjalin hubungan baik dengan mataram. Mataram sangat menghormati kerajaan cirebon, karena segan dengan faletehan. Hal ini terjadi karena, faletehan seorang wali, beliau juga tokoh yang sangat berjasa bagi kejayaan kerajaan demak. Mataram sendiri merupakan kelanjutan kerajaan demak.

Faletehan wafat tahun 1570 dan dimakamkan di daerah gunung jati. Oleh karena itu, beliau dikenal dengan sunan gunung jati. Cirebon kemudian diperintah oleh penembahan ratu, cicit dari faletehan. Sepeninggalan faletehan, cirebon terus mengalami kemunduran. Bahkan abad ke-17 mengalami perpecahan menjadi dua, yaitu menjadi kesepuhan dan kanoman.

Loading...