Ciri-Ciri Pembangunan Berkelanjutan

Berdasarkan hal tersebut, maka pembangunan berkelanjutan memiliki beberapa ciri berikut ini.

  1. Memberi kemungkinan pada kelangsungan hidup dengan jalan melestarikan fungsi dan kemampuan ekosistem yang mendukungnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  2. Memanfaatkan sumber daya alam dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.
  3. Memberikan kesempatan pada sektor dan kegiatan lainnya untuk berkembang bersama di seluruh daerah dalam kurun waktu yang sama maupun kurun waktu yang berbeda.
  4. Meningkatkan dan melestarikan kemampuan serta fungsi ekosistem untuk memasok sumber daya alam. Selain itu, ada upaya untuk melindungi dan mendukung perikehidupan secara terus menerus.
  5. Menggunakan prosedur dan tata cara yang memperhatikan kelestarian fungsi dan kemampuan ekosistem untuk mendukung perikehidupan, baik masa kini maupun masa datang.

Dari ciri-ciri tersebut mencerminkan beberapa tindakan atau upaya yang menjadi karakter dalam pembangunan berkelanjutan. Upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan berkelanjutan dirumuskan dibawah ini.

  1. Menyatukan persepsi tentang pelestarian
  2. Menstabilka populasi bumi, baik di darat maupun di laut.
  3. Melanjutkan mengamankan penggunaan sumber daya.
  4. Menggunakan sumber daya secara efisien dan tidak membahayakan biosfer.
  5. Mengembangkan dan menerapkan teknologi maju untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan lingkungan.
  6. Mendukung program ekonomi baru yang memiliki strategi yang berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya dan pengembangan lingkungan.

Pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan, tetapi lebih luas lagi mencakup tiga lingkup kebijakan, yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen World Summit 2005 menyebut ketiga hal dimensi tersebut terkait dan menjadi pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan terletak pada titik temu tiga pilar tersebut.

Deklarasi Universal Keberagaman Budaya yang dilaksanakan UNESCO tahun 2001 lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan konsep dari UNESCO menyebutkan bahwa “… keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati dan non hayati”. Dengan demikian pembangunan berkelanjutan tidak hanya di pahami sebagai pembangunan ekonomi. Lebih luas dari itu, pembangunan berkelanjutan harus dipahami sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual. Dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Memang diakui bahwa konsep keberlanjutan merupakan konsep yang sederhana namun kompleks, sehingga pengertian keberlajutanpun sangat multidimensi dan multi-interpretasi. Menurut Heal, (Fauzi, 2004). Konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua dimensi : Pertama adalah dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Kedua adalah dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumber daya alam dan lingkungan.

Pezzey (1992) melihat aspek keberlajutan dari sisi yang berbeda. Dia melihat bahwa keberlanjutan memiliki pengertian statik dan dinamik. Keberlanjutan dari sisi statik diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam terbarukan dengan laju teknologi yang konstan, sementara keberlanjutan dari sisi dinamik diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat teknologi yang terus berubah.

Karena adanya multidimensi dan multi-interpretasi ini, maka para ahli sepakat untuk sementara mengadopsi pengertian yang telah disepakati oleh komisi Brundtland yang menyatakan bahwa “Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

Ada dua hal yang secara implisit menjadi perhatian dalam konsep brunland tersebut.

Pertama, menyangkut pentingnya memperhatikan kendala sumber daya alam dan lingkungan terhadap pola pembangunan dan konsumsi. Kedua, menyangkut perhatian pada kesejahteraan (well-being)generasi mendatang. Hall (1998) menyatakan bahwa asumsi keberlajutan paling tidak terletak pada tiga aksioma dasar;(1) Perlakuan masa kini dan masa mendatang yang menempatkan nilai positif dalam jangka panjang; (2) Menyadari bahwa aset lingkungan memberikan kontribusi terhadap economic wellbeing; (3) Mengetahui kendala akibat implikasi yang timbul pada aset lingkungan.

Konsep ini dirasakan masih sangat normatif sehingga aspek operasional dari konsep keberlanjutan ini pun banyak mengalami kendala. Perman et al.,(1997) mencoba mengelaborasikan lebih lanjut konsep keberlanjutan ini dengan mengajukan lima alternatif pengertian: (1). Suatu kondisi dikatakan berkelanjutan (sustainable) jika utilitas yang diperoleh masyarakat tidak berkurang sepanjang waktu dan konsumsi tidak menurun sepanjang waktu (non-declining consumption),(2) keberlanjutan adalah kondisi dimana sumber daya alam dikelola sedemikian rupa untuk memelihara kesempatan produksi dimasa mendatang, (3) keberlanjutan adalah kondisi dimana sumber daya alam (natural capital stock) tidak berkurang sepanjang waktu (nondeclining), (4) keberlanjutan adalah kondisi dimana sumber daya alam dikelola untuk mempertahankan produksi jasa sumber daya alam, dan (5) keberlanjutan adalah adanya kondisi keseimbangan dan daya tahan (resilience) ekosistem terpenuhi.

Baca Juga

© 2022 Sridianti.com