Kebangkitan Bangsa Filipina

Salah satu isi dari Perjanjian Tordesilas telah mendorong bangsa Spanyol dapat menemukan daratan Filipina yang pada saat itu dijadikan bahan rebutan dengan Portugis. Setelah melewati beberapa pertempuran dengan Portugis, pasukan Spanyol di bawah komando Lopez De Legaspi dapat memukul mundur pasukan Portugis. Dengan kemenangan tersebut, maka Spanyol mengklaim kawasan Filipina dijadikan daerah jajahannya.

Secara perlahan, Spanyol pun mulai membangun pusat-pusat perdagangan di Filipina yang salah satunya adalah kota Manila guna mengumpulkan hasil jarahan di negeri tersebut. Peraturanperaturan tersebut mereka tetapkan dengan maksud agar kekuasaannya di Filipina semakin kokoh. Pendudukan Spanyol atas Filipina ini banyak menimbulkan kerugian dan kesengsaraan bagi rakyat.

Selain mengumpulkan hasil jarahannya, bangsa di Filipina pun giat menyebarkan agama yang mereka bawa dari Eropa mulai dari utara sampai ke selatan. Dalam proses penyebarannya banyak sekali hambatan dan halangan yang muncul dan dialami oleh para pemuka agama tersebut, khususnya di wilayah selatan yakni perlawanan dari suku Moro yang telah lama memeluk Islam.

Kesengsaraan yang dialami oleh rakyat Filipina menimbulkan semangat nasionalisme di hadapan rakyat, di mana pada saat itu muncullah kesadaran untuk bersatu melawan Spanyol. Selain itu, ketetapan yang dibuat oleh agamawan yang berpusat sangat mengekang bangsa Filipina. Mereka menguasai sebagian besar tanah, sedangkan para petani pribumi diposisikan sebagai penyewa tanah. Hal tersebut membuat para petani marah kemudian terdorong untuk bangkit melawan kebijakan-kebijakan yang sangat tidak masuk akal itu.

Semangat nasionalisme pun muncul dalam jiwa kaum terpelajar yang menginginkan dibentuk dan dijalankannya pendidikan yang bersifat patriotik. Di antara tokoh yang muncul dan kompeten dalam komunitas kaum terpelajar ini adalah Jose Rizal. Dengan membentuk Liga Filipina atau gerakan bawah tanah, Jose Rizal menyerukan agar seluruh rakyat Filipina menentang penjajah Spanyol. Dalam pergerakannya, berbagai cara dijalaninya bahkan sampai menulis buku yang berjudul Noly Ne Tangere yang berisi kritikan keras terhadap bangsa Spanyol. Buku tersebut dianggap telah menyalahi aturan yang telah ditetapkan dan membuat rakyat Filipina terbakar emosinya untuk memberontak, maka buku tersebut dicabut dari peredaran dan membuat Jose Rizal ditangkap dan diasingkan.

Pada saat yang bersamaan, dengan ditangkapnya Jose Rizal, Andreas Bonifacio dengan organisasinya yang bernama Katipunan melakukan gerakan bersenjata untuk melawan Spanyol. Namun usaha Bonifacio tersebut gagal. Katipunan membuat bangsa Spanyol kocar-kacir dan terdesak. Karena posisinya sedang terancam, Spanyol pun segera membuat perjanjian dengan Aquinaldo pada tahun 1847 dengan nama Perjanjian Biacnabato yang berisi:

(a) Spanyol akan melakukan perbaikan struktur pemerintahan untuk menuju ke arah yang lebih baik dalam tempo tiga tahun.

(b) Katipunan dibubarkan dan Aquinaldo beserta pengikutnya harus meninggalkan Filipina.

Namun belum genap tiga tahun, meletuslah perang antara Spanyol dengan Amerika Serikat sehingga mengakibatkan Spanyol mengalami kekalahan. Berdasarkan atas perjanjian damai di Paris 1898, Filipina jadi milik AS. Namun demikian, hal tersebut tidak melunturkan semangat Aquinaldo untuk kembali memperjuangkan kemerdekaan Filipina dari tangan Amerika, tetapi tuntutan tersebut ditolak. Berbagai macam upaya dijalankan Aquinaldo dalam memperjuangkan cita-citanya, tetapi usahanya sia-sia dan Aquinaldo ditangkap. Walaupun demikian, hal tersebut tidak membuat rakyat Filipina gentar dan sebagai puncaknya pada tahun 1934 Amerika Serikat mengeluarkan Tyding Mc Duffie Act yang berisi tentang:

(a) Bentuk pemerintah Filipina nantinya akan berbentuk republik.

(b) Konstitusi negara disusun dengan presiden sebagai kepala negara.

(c) Masa peralihan berlangsung selama 12 tahun

(d) Wakil AS di Filipina berpangkat komisaris tinggi.

(e) Pangkalan militer tetap dikuasai Amerika Serikat.

(f) Secara bertahap Filipina keluar dari aturan bea Amerika Serikat.

Ketetapan tersebut membuat Filipina diambang kemerdekaan yang kemudian pada tanggal 4 Juli 1946, Amerika memberi kemerdekaan penuh terhadap Filipina dengan Manuel Roxas sebagai presiden pertamanya.

Related Posts