PEMBERONTAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN

Setelah Merdeka dari penjajahan bangsa asing Indonesia mengalami banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang dapat mengganggu kedaulatan negara hingga menimbulkan ketidakamanan baik bagi negara ataupun bagi warga masyarakat. Dari sekian banyak peristiwa tersebut diantaranya adalah Pemberontakan Republik Maluku Selatan pada tahun 1950.

RMS adalah pemberontakan separatis yang bertujuan untuk memisahkan Maluku Selatan dari RIS supaya membentuk negara  sendiri.  Pemberontakan ini dipimpin oleh Dr Soumokil. Pemberontakan ini disebabkan karena ketidakpuasan mereka terhadap proses kembalinya RIS ke NKRI. Pemberontakan itu menggunakan unsur KNIL yang merasa status mereka tidak pasti setelah KMB

Aksi

  • 4 April 1950

Ir. Manusama rapat dikantornya bersama rajapati perihal penggabungan wilayah Ambon ke NKRI yang dinilai berbahaya. Menyetujui diadakannnya rapat umum.

  • 13 April 1950

Dr Soumokil  berkunjung  menuju Ambon. Ia mengadakan rapat rahasia bersama pemuka KNIL dan Ir Manusama. Dr Soumokil menganjurkan agar KNIL memerdekakan daerah Maluku Selatan. Jika perlu seluruh anggota Dewan Maluku Selatan dibu.nuh

  • 18 April 1950

Rapat umum diadakan di Ambon untuk memperingatkan seluruk rakyat Ambon akan bahaya penggabungan wilayah Ambon ke NKRI

  • 25 April 1950

Bertempat di Ambon,Dr. Soumokil memproklamasikan Republik Maluku Selatan

 

Pemerintah RIS mencoba menyelesaikan masalah secara damai. Pemerintah menunjuk Dr Leimana, tokoh asli Maluku,untuk memimpin misi damai. Namun, misi itu ditolak oleh Dr Soumakil.

Upaya damai lainnya mengirimkan para politikus,pendeta,dokter, dan wartawan pun tidak membuahkan hasil.

Pemerintah terpaksa melakukan blokade laut dan melakukan operasi militer untuk menumpas RMS. Selama bulan Juli-November APRIS telah menguasai daerah Ambon dan sekitarnya dari RMS.Dengan jatuhnya Ambon, perlawanan RMS dapat dipatahkan.  Para pemberontak banyak yang melarikan diri.

Perlawanan pemberontak di Maluku baru berhenti setelah Dr Soumokil ditangkap pada bulan November 1963 dan di eksekusi mati pada 12 April 1966.

Para pemberontak yang tidak mau tunduk kepada NKRI lari ke Belanda dan mendirikan pemerinah pengasingan di sana.

 

Baca Juga

© 2022 Sridianti.com