Tokoh Belanda yang Mengecam Sistem Tanam Paksa

Pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1830 Sistem Tanam Paksa dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Johanes van den Bosch. Hal ini disebabkan keadaan pemerintahan Belanda pada saat itu berada dalam kondisi yang sulit keuangan karena pemerintahan Belanda harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak untuk membiayai peperangan, sehingga menanggung hutang hutang yang besar. Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya  kopi, tebu dan tarum (nila).

Namun dalam pelaksanaannya banyak peyimpangan-penyimpangan terjadi yang memberatkan terhadap rakyat Indonesia. Sehingga hal tersebut menimbulkan penentangan baik dari warga pribumi bahkan dari tokoh Belanda sekalipun. Berikut ini tokoh-tokoh Belanda yang menentang dan mengecam adanya Sitem Tanam Paksa.

Eduard Douwes Dekker (1820–1887)

Eduard Douwes Dekker sebelumnya adalah seorang residen di Lebak, (Serang,Jawa Barat). Ia sangat sedih menyaksikan betapa buruknya nasib bangsa Indonesia akibat sistem tanam paksa dan berusaha membelanya. Ia mengarang sebuah buku yang berjudul Max Havelaar (lelang kopi perdagangan Belanda) dan terbit pada tahun 1860.

Dalam buku tersebut,ia melukiskan penderitaan rakyat di Indonesia akibat pelaksanaan sistem tanam paksa. Selain itu, ia juga mencela pemerintah Hindia-Belanda atas segala kebijakannya di Indonesia. Eduard Douwes Dekker mendapat dukungan dari kaum liberal yang menghendaki kebebasan. Akibatnya,banyak orang Belanda yang mendukung penghapusan Sistem Tanam Paksa.

Baron van Hoevell (1812–1870

Selama tinggal di Indonesia, Baron van Hoevell menyaksikan penderitaan bangsa Indonesia akibat sistem tanam paksa. Baron van Hoevell bersama Fransen van de Putte menentang sistem tanam paksa. Kedua tokoh itu juga berjuang keras menghapuskan sistem tanam paksa melalui parlemen Belanda.

Fransen van der Putte (1822-1902)

Selama tinggal di Indonesia, Baron van Hoevell menyaksikan penderitaan bangsa Indonesia akibat sistem tanam paksa. Baron van Hoevell bersama Fransen van de Putte menentang sistem tanam paksa. Kedua tokoh itu juga berjuang keras menghapuskan sistem tanam paksa melalui parlemen Belanda.

Baca Juga

© 2022 Sridianti.com