Sistem Kepercayaan Masyarakat Zaman Logam

Ada 3 kebudayaan yang ada pada zaman logam diantaranya kebudayaan besi, kebudayaan tembaga dan kebudayaan perunggu. Kebudayaan logam terdiri atas kebudayaan tembaga. Di Indonesia zaman tersebut lebih dikenal dengan sebutan zaman perunggu sedangkan zaman logam dikenal di Asia Tenggara. Pada zaman ini pekakas yang digunakan untuk sehari-hari hampir semua terbuat dari bahan logam.

Kepercayaan masyarakat Indonesia awal antara lain Animisme (memuja arwah nenek moyang), Dinamisme (memuja benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib), dan Totenisme (memuja binatang tertentu dan dianggapnya seketurunan).

Pada masyarakat ini, telah mempunyai konsep tentang apa yang terjadi pada orang yang meninggal. Mereka percaya bahwa orang-orang yang meninggal rohnya pergi ke suatu tempat yang Tidak jauh dari tempat tinggalnya atau roh orang yang meninggal
itu berada disekitar wilayah tempat tinggalnya, sehingga sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai bantuanya dalam kasus tertentu seperti menanggulangi wabah penyakit  atau mengusir pasukan-pasukan musuh yang ingin menyerang wilayah tempat tinggalnya.

Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan kepada roh nenek nenek moyang terlihat melalui peninggalan-peninggalan megalithikum. Bangunan-bangunan megalithikum biasanya banyak ditemukan di tempat-tempat yang tinggi yaitu di puncak-puncak bukit, lereng-lereng gunung atau dataran tinggi. Karena tempat yang tinggi dianggap tempat bersemayamnya roh  nenek moyang.

Masyarakat telah mengenal teknik-teknik pengolahan logam (perunggu dan besi), yaitu:

  • Teknik bivalve, yaitu cetakan yang terdiri dari dua bagian, kemudian diikat dan ke dalam rongga dalam cetakan itu dituangkan perunggu cair. Cetakan tersebut kemudian dilepas dan jadilah barang yang dicetak.
  • Teknik a cire perdue (membuat model benda dari lilin). Benda yang akan dicetak dibuat dari lilin atau sejenisnya, kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang. Setelah itu dibakar maka lilin akan meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi dengan cairan perunggu. Sesudah dingin perunggu membeku dan tanah liat dibuang maka jadilah barang yang dicetak.